Blog     Gambar     Video     Berita    
Topik Pilihan : Puisi Buat Guru     Pedoman BKR     Generasi Berencana     Terlambat Datang Bulan     Posisi Sex    

Kamis, 19 Agustus 2010

Mencari Pendidikan Alternatif

Tidak bisa tidak, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia di era mondial ini. Pendidikan merupakan acuan dasar bagi manusia untuk mencari hakekat pribadinya sehingga mereka bisa mengatasi segala polemik yang ada di lingkungan sekitar. Sebagai kebutuhan primer, jelas bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap manusia.

Pertanyaannya sudahkah pemerintah memenuhi kebutuhan dasar itu? Terutama terkait dengan UUD 1945 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara? Kecenderungan dalam masyarakat, justru falsafah dasar tersebut masih belum menyentuh realitas.

Sebaliknya, lembaga pendidikan, para elite pendidikan lebih mengedepankan money oriented. Pendidikan tak ubahnya seperti pasar. Di pasar adanya barang dagangan (baca: sekolah) di pasar ada tawar menawar antara penjual dan pembeli dan di pasar ada uang. Uanglah yang menentukan sebua transaksi. Siapa yang memiliki uang dialah yang bisa membeli sekolah.

Tak pelak, Masih banyak para orang bawah yang mengeluh sekolah yang mahal, dengan dana-dana yang tau akan dialokasikan kemana. Dan tak jarang anak mereka diperintahkan untuk mencari uang sendiri. Seperti; memulung barang bekas, pengamen dijalanan hingga mengemis di beberapa perumahan mewah. Hal inilah yang kurang disentuh oleh pemerintah.

Padahal telah dikemukan di Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa "setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, setiap warga negara wajib memperoleh pendidikan dasar dan pemerintah wajib menyediakan dananya". Masih dalam pasal itu juga dinyatakan bahwa pemerintah mengupayakan tersedianya dana pendidikan sekurang-kurangnya 20% APBN dan APBD. Dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak, "mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya" dan "mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya" (ayat 1 huruf c dan d).

Dapat penulis uraikan pernyataan diatas bahwa seharusnya pendidikan itu wajib dikenyam oleh semua warga dan jangan sekali-kali ada diskriminasi dalam pendidikan sehingga adanya sebuah pembatas antara kaum si kaya dan si miskin. Hal ini yang menyebabkan adanya pemetakan-pemetakan guna memperoleh sebuah pendidikan yang layak bagi semua warga Negara.

Menurut Darmaningtyas pemetakan tersebut adalah mereka yang tinggal di daerah perkotaan, berasal dari keluarga terdidik, dan ditunjang kemampuan ekonomi yang cukup (kita sebut kelompok pertama), tentu memiliki kesadaran tinggi untuk menyekolahkan anaknya, termasuk berani membayar mahal. Tetapi mereka yang miskin, meski tinggal di kota (kita sebut kelompok kedua), belum tentu memiliki kesadaran sama. Atau mereka memiliki kesadaran tinggi untuk menyekolahkan anaknya, tetapi tidak memiliki biaya. Masalah yang lebih kompleks adalah mereka yang tinggal di daerah terisolasi dan miskin (kita sebut kelompok ketiga).

Maka disini pemerintah perlu adanya langkah-langkah yang kontruktif. Pemerintah berpikir bagaimana anak yang belum mendapatkan haknya (baca ; pendidikan) merasakan bangku sekolah yang dinilai berharga bagi mereka tanpa harus mengeluarkan biaya yang melimpah.

Perlu sekali adanya pendidikan ‘ Alternatif ’, khususnya bagi mereka yang tidak mampu sehingga tak perlu lagi membayar uang pendidikan (baca; sekolah gratis) di daerah terpencil yang banyak didiami oleh si miskin juga terlebih lagi yang belum mengenal sekolah sama sekali. Tujuannya tak ada lain hanya untuk mencerdaskan anak bangsa. Ini sesuai dengan pasal diatas yang membahas tentang pendidikan yang mana setiap warga negara wajib memperoleh pendidikan dasar dan pemerintah wajib menyediakan dananya. Juga mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Ada statement yaitu, pendidikan gratis itu pendidikan tidak bermutu dan menjatuhkan mutu pendidikan, sehingga tak salah mereka yang ber-duit (kaya) lebih baik membayar mahal dengan kualitas yang terjamin. Namun, bagi mereka yang tidak ber-duit (miskin) pendidikan gratis jelas amat menarik, karena para anaknya bisa bersekolah tanpa harus bayar.

Jadi, sampai saat ini belum tersentuhnya pendidikan yang berkualitas untuk masyarakat bawah dalam program pendidikan nasional. Maka, solusinya pemerintah harus mempertegas arah regulasi pendidikan, termasuk jaminan pendidikan untuk keluarga miskin. Seperti tunjangan pendidikan, beasiswa, dan subsidi silang. Pemerintah harus berkomitmen untuk mempunyai andil dalam dunia pendidikan. Keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan pemerintah.
 



Read More »
04.50 | 0 komentar

PENDIDIKAN NON FORMAL

Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

 

Sasaran

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

 

Fungsi

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

 

Jenis

Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

 

Satuan pendidikan penyelenggara

  • Kelompok bermain (KB)
  • Taman penitipan anak (TPA)
  • Lembaga kursus
  • Sanggar
  • Lembaga pelatihan
  • Kelompok Belajar
  • Pusat kegiatan belajar masyarakat
  • Majelis taklim
Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pendidikan. PKBM ini masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan Nasional. PKBM ini bisa berupa tingkat dusun, desa ataupun kecamatan. untuk mendirikan PKBM bisa dari unsur apapun oleh siapapun yang tentunya telah memenuhi syarat-syarat kelembagaan antara lain : 1. Akta Notaris 2. NPWP 3. Susunan Badan pengurus 4. Sekretariat 5. Ijin Operasional dari Dinas Pendidikan Kab/kota

Cakupan Kegiatan

Cakupan kegiatan antara lain :
  • Kejar Paket A
  • Kejar Paket B
  • Kejar Paket C
  • PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
  • KBU (Kelompk Belajar Usaha)
  • KUPP (Kelompok Usaha Pemuda Produktif)
  • Pemberdayaan Perempuan / Pangarustamaan Gender
  • Keaksaraan Fungsional(KF)
  • Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
Wikipedia


Read More »
04.24 | 0 komentar

HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

1. Pengertian

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2. Tujuan

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

3. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :
  • Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.
  • Belajar melalui bermain
Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.
  • Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
  • Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.
  • Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.
  • Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.
  • Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .


Read More »
04.07 | 0 komentar

Calistung pada Anak PAUD bisa Mengakibatkan 'Mental Hectic'

Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena 'Mental Hectic'. ''Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,'' ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada 'qitah'-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung.

Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ''Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,'' jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung. Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ''Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,'' cetusnya.

Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ''Jadi tidak main-main itu, ada namanya 'mental hectic', anak bisa menjadi pemberontak,'' tegas dia.

Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ''SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,'' jelasnya.

Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi. Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ''Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,'' jawab dia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Srie Agustina, Koordinator Komisi Edukasi dan Komunikasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), menyatakan, memilih mensosialisasikan produk pendidikan merupakan bagian dari fungsi dan tugas BPKN untuk melakukan perlindungan terhadap konsumen.

Dalam hal ini, kata Srie, BPKN memprioritaskan sosialisasi pada anak usia dini. Sebab berdasarkan Konvensi Hak Anak, setiap anak memiliki empat hak dasar. Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dalam kerugian dari barang dan produk, termasuk produk pendidikan. ''Untuk itu sejak dini anak dilibatkan, karena di usia itulah pembentukan karakter terjadi,'' papar Srie.

Namun menurut Srie, mengedukasi tentang sebuah produk harus menggunakan metode khusus. Tidak dapat berwujud arahan dan larangan, namun dengan cara yang menyenangkan, salah satunya dengan festival mewarnai sebagai salah satu teknik untuk memberikan edukasi. ''Dengan mewarnai, mereka bisa terlibat dan merasa lebur di dalamnya, selain itu dalam gambar yang diwarnai tersebut disisipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan,'' pungkasnya. 
 

Read More »
03.46 | 0 komentar

PENDIDIKAN KESETARAAN

Pendidikan Kesetaraan, merupakan salah satu dari pendidikan non formal (PNF) yang mencakup program Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA. Program ini penekannnya pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik.

Direktorat Kesetaraan Dirjen PNFI sekarang memberikan kebijakan bahwa ada 3 spektrum yang perlu dilaksanakan yaitu Spektrum KMA (Kesetaraan Murni Akademik), KIV (Kesetaraan Integrasi Vokasi dan KMV (Kesetaraan Murni Vokasi). Ketiga spektrum tersebut diharapkan dapat dilaksanakan untuk menjawab perubahan dan perkembangan jaman saat ini.

Pendidikan kesetaraan memberikan tempat dan melayani pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu, anak DO, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup, warga masyarakat lain yang membutuhkan layanan khusus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari perubahan peningkatan taraf hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan kesetaraan (setara), definisi setara adalah sepadan dalam civil effect, ukuran, pengaruh, fungsi dan kedudukan. " Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan", petikan tersebut diatas terdapat dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 26 Ayat (6). Petikan tersebut memperkuat bahwa hasil pendidikan kesetaraan sepadan dengan pendidikan formal.

Sasaran pendidikan kesetaraan yang belum terlayani di negeri ini masih banyak. Mereka ada dilingkungan dekat kita, seperti maaf, pembantu di rumah kita boleh jadi hanya lulusan SD, atau bahkan DO SD atau DO SMP, Masyarakat pekerja di pasar, atau masyarakat yang karena kesibukan bekerja ia ternyata masih ingin memerlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Cobalah identifikasi, teliti dari sekarang, apa pendidikan terakhir mereka ? Mereka juga ada di pelosok-pelosok negeri ini, di daerah yang terisolir secara geografis. pelayanan pendidikan kesetaraan pada mereka sampai sampai menggunakan para penerjun yang langsung mendatangi daerah terisolir tersebut untuk memberikan pelayanan pendidikan.

Mari bersama-sama menelisik lingkungan terdekat kita, masih adakah yang belum memperoleh layanan pendidikan? ......

Mereka yang tidak terlayani pendidikannya , harus dilayani. Karena memperoleh pendidikan adalah hak asasi. Seperti tercantum dalam pasal 28 c ayat 2 UUD 45 yang tertulis bahwa " setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia".
 


Read More »
03.13 | 0 komentar

Selasa, 17 Agustus 2010

MANFAAT MINUM AIR PUTIH SETIAP HARI

Semua orang pasti setuju bahwa air sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup. Air diperlukan oleh tumbuhan sehingga menjadi produsen bagi binatang atau manusia juga sebagai elemen dasar dalam mata rantai kehidupan. Bagi sebagian binatang, selain untuk minum, air juga menjadi tempat tinggal mereka. Tidak mengherankan bahwa bumi diciptakan dengan sebagian besar terdiri dari air. Begitu juga, dengan tubuh kita, 80% terdiri dari air.

Mengingat pentingnya air, maka anjuran yang diberikan adalah agar kita meminum air sedikitnya 8 gelas sehari atau sekitar dua hingga dua setengah liter air. Berikut adalah beberapa manfaat air bagi tubuh:

Membuat tubuh lebih sehat
Apabila asupan air mencukupi, hal ini dapat membantu agar distribusi nutrisi ke seluruh tubuh menjadi lancar sehingga semua sel dalam tubuh dapat memperbaiki diri dengan nutrisi tersebut. Dengan minum air sesuai anjuran juga akan meringankan kerja ginjal dan hati sehingga dapat membantu kita terhindar dari penyakit ginjal dan hati.

Memperlancar pencernaan 
Minum air membantu pembuangan racun hasil metabolisme lebih lancar. Ini akan membantu kita terhindar dari penyakit pada pencernaan seperti sakit maag dan sembelit.

Menambah kecantikan alami 
Kekurangan air akan membuat kulit kita terlihat kering dan berkerut. Air akan membantu menjaga kulit agar tetap kenyal sehingga terlihat awet muda dan cantik alami.

Membuat langsing 
Air dapat menurunkan berat badan. Mengapa? Karena air tidak berkalori, bebas lemak, bebas kolesterol, dan rendah natrium.Selain itu, air membantu tubuh menguraikan lemak yang tersimpan.

Bagi yang sedang berdiet, air dapat menjadi teman yang tidak boleh dilupakan. Dengan meminum air hangat sebelum makan, akan membantu kita merasa kenyang sehingga akan mengurangi selera makan dan mengurangi porsi makan kita. Minum air juga tidak akan membuat gemuk karena air tidak mengandung kalori, gula dan lemak.

Meningkatkan kesuburan 
Untuk Anda yang sedang merencanakan kehamilan, ternyata air dapat membantu meningkatkan kesuburan karena akan merangsang produksi hormon testoteron pada pria dan hormon estrogen pada wanita.

Mengingat pentingnya air, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memilih air minum yang sehat. Bila air minum tidak bersih bisa menyebabkan diare atau penyakit lainnya. Sedangkan saat ini ada berbagai jenis air minum yang ditawarkan seperti air tanah, air dari Perusahaan Air Minum (PAM), Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), air mineral dan air heksagonal. 
 
Apa saja perbedaan dari masing-masing jenis air tersebut?

Air tanah 
Bagi penduduk di pedesaan air minum dapat diambil dari air tanah yang diambil dari sumur atau sungai. Tetapi, perlu diwaspadai bila sumber air tersebut berada di kawasan industri atau lokasi pembuangan sampah. Sedangkan di kota-kota besar, misalnya Jakarta, air tanah tidak lagi layak untuk dikonsumsi, karena banyak mengandung bakteri Eschericia coli (E-coli), kandungan besi (Fe) dan Mangan (Mn) serta kadar keasaman (pH) yang melebihi kriteria air minum sehat. Ini disebabkan karena banyaknya polutan yang dihasilkan manusia sehingga merusak air tanah.

Air PAM 
Untuk dapat menghasilkan air yang baik, Perusahaan Air Minum (PAM) sebenarnya memiliki teknologi yang sesuai dengan pengolahan air minum, tetapi ini juga dipengaruhi oleh kualitas dari air yang dijadikan sebagai bahan baku apakah air tersebut tercemar atau tidak.

Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) 
Adalah air yang diolah dengan teknologi khusus seperti teknologi sterilisasi kemudian dikemas dalam botol plastik atau wadah lainnya. Izin untuk perusahaan ini biasanya baru akan dikeluarkan bila hasil uji laboratorium baik. Agar mendapat air minum yang baik, perusahaan perlu selalu melakukan kontrol terhadap hasil air minum dan merawat peralatan produksinya dengan baik.

Air Mineral 
Adalah air yang diperoleh dari sumbernya, umumnya dari pegunungan dan langsung dikemas sehingga terdapat mineral di dalamnya dengan kadar tertentu yang diperbolehkan.

Air heksagonal 
Air jenis ini memiliki rangkaian molekul yang terstruktur, berbentuk segi enam sehingga disebut heksagonal. Air jenis ini lebih mudah diserap tubuh, lebih cepat menghantar nutrisi untuk seluruh tubuh, membuang racun sisa metabolisme, serta akan mengoptimalkan metabolisme tubuh.

Secara alami, air ini terdapat dalam sumur air zamzam di Mekah, di pegunungan Alpen, Swiss, dan di Lourdes, Perancis. Selain secara alami, air heksagonal dapat dibuat dengan menggunakan mineral-mineral alami yang dapat membantu pembentukan struktur heksagonal dalam air. Suhu saat pembentukan juga harus diperhatikan karena dapat menyebabkan struktur tersebut menjadi terurai sehingga menjadi air biasa.

Air heksagonal umumnya dijual dalam kemasan, tetapi minuman seperti ini dipercaya lebih menyehatkan untuk tubuh juga dapat mencegah penuaan. Dengan meminum air heksagonal dianggap dapat meningkatkan vitalitas, memperlambat proses penuaan dan mencegah penyakit. Hanya saja, air jenis ini umumnya lebih mahal dibandingkan jenis lainnya.

Sekarang, Anda dapat menentukan mana air minum yang layak diminum. Segera tolak apabila air berwarna, keruh atau berbau. Sedangkan bila membeli air yang dikemas, perhatikan segel tidak terbuka atau bocor.


Berapa Banyak yang Harus Diminum?

Tanpa mengkonsumsi air secara cukup, tubuh dapat mudah terserang penyakit. Maka, jangan lupa untuk mengkonsumsinya minimal 8 gelas setiap hari atau sekitar minimal dua liter air. Setiap hari, sekitar dua liter air terbuang melalui kulit, paru-paru, usus, dan ginjal.

Air yang hilang ini harus diganti agar kita tidak mengalami dehidrasi. Jika Anda kekurangan air atau mengalami dehidrasi, maka beberapa tanda seperti sakit kepala, lelah, pegal, air seni yang pekat, tidak tahan terhadap panas, serta mulut dan mata yang kering akan terjadi pada tubuh Anda.

Berapa banyak air yang harus diminum setiap hari? Bagi orang yang sehat membutuhkan minimal dua sampai dua setengah liter air sehari. Jika Anda berolahraga, maka Anda akan membutuhkan lebih banyak air. Demikian juga jika Anda tinggal di iklim panas. Bagi mereka yang mengalami obesitas, perlu minum segelas air ekstra untuk setiap kelebihan 10 kilogram dari berat badan ideal. Namun, sebaliknya bagi beberapa penderita penyakit tertentu seperti gagal jantung atau gangguan fungsi ginjal, maka beberapa dokter menyarankan untuk tidak terlalu banyak minum air. Ini pun harus dengan rekomendasi dokter ahli.

Jangan gantikan air dengan cairan lain seperti jus buah. Meski membuat tubuh sehat, jus buah mengandung kalori. Demikian juga, minuman yang mengandung gula dan susu, juga akan membuat tubuh membutuhkan banyak air untuk mencernanya. Apalagi jika Anda minum banyak minuman beralkohol atau minuman berkafein seperti kopi dan teh. Minuman-minuman ini memiliki sifat diuretik yaitu senyawa yang meningkatkan aliran seni, sehingga kita perlu minum lebih banyak air guna mengganti apa yang dikeluarkan.

Karena itu, jangan minum air ketika Anda sudah merasa haus. Ketika Anda merasa haus, maka Anda mungkin sudah mengalami dehidrasi. Karena itu, minumlah minimal 8 gelas sehari atau 2 hingga 2,5 liter per hari demi kesehatan Anda. Minumlah segelas air sekarang juga.
 
 Sumber : KumpulanInfo 

Read More »
19.53 | 0 komentar

Pangarustamaan Gender atasi Kemiskinan

Ya, kemiskinan itu berwajah perempuan. Kita tidak hanya berbicara tentang kemiskinan yang telah dikategorikan BPS dengan rumah berlantai tanah, makan daging sekali sehari dan lainnya. Kemiskinan ini lebih pada akses terhadap sumber daya, informasi , kemudian kontrol akan pembangunan serta partisipasi dan manfaat dari proses pembangunan. Dan yang sedang dibicarakan adalah kelompok perempuan. Bahwa kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam pembangunan tidak bisa dipungkiri.

Kita lihat saja ’kemiskinan’ yang kini makin banyak muncul, mulai saja dari pembangunan infrastruktur apakah jalan-jalan di kota anda memiliki trotoar yang layak , serta memiliki ruang terbuka yang cukup? Segi transportasi, apakah ibu hamil dan lansia kesulitan ketika naik bis buatan Indonesia, karena pijakan terlalu tinggi? Apakah ekonomi berpihak pada perempuan pengusaha kecil dan mikro terutama kebijakan kredit pinjaman?dan apakah di lingkungan sekitar anda memiliki kecenderungan kasus kekerasan terhadap perempuan yang meningkat dan apakah pemerintah daerah di tempat tinggal anda sedang merumuskan perda yang diskriminatif terhadap perempuan, tidak boleh keluar malam dan harus memakai atribut/simbol agama tertentu?

Kesenjangan antara kelompok laki-laki dan perempuan ini adalah salah satu bentuk kemiskinan yang kadang suka terlupa. Iya, perencana kebijakan kita lupa bahwa kebutuhan perempuan dan laki-laki itu berbeda, tetapi mereka membuat program dan kegiatan yang sama tanpa memperhatikan kebutuhan spesifik. Mau contoh yang nyata? Pada saat terjadi bencana (di Aceh maupun Yogyakarta), bantuan yang datang isinya makanan dan selimut dan kita lupa bahwa pembalut dan air bersih justru yang dibutuhkan oleh korban.

Mengapa program pembangunan belum maksimal? Karena data terpilah perempuan dan laki-laki di berbagai sektor belum tersedia, meskipun itu kualitatif. Pada proses perencanaan pembangunan dari desa- kecamatan-kabupaten-propinsi sampai nasional, kurang melibatkan kelompok perempuan miskin yang menjadi sasaran program, ketidakkonsistenan perencana dalam merumuskan prioritas sesuai dokumen perencanaan dan komitmen MDGs, belum lagi proses penganggaran yang sarat kepentingan politik, cenderung tertutup dan kadang tidak masuk akal, bayangkan saja biaya pengadaan seragam pegawai lebih besar dari pengadaan obat gratis untuk kelompok miskin. 

Sedikit yang saya ceritakan tadi adalah cara memulai strategi pengarusutamaan gender dalam perencanaan dan pembangunan yang sebenarnya sudah ada kerangka hukumnya melalui Inpres no 9 tahun 2000, yang di momen pelaksanaan MDGs yang saat ini ada di tengah jalan pelaksanaannya, harusnya sudah menjadi arus utama dalam kebijakan Indonesia untuk memerangi kemiskinan.

Read More »
18.46 | 0 komentar

PEMBANGUNAN BERPRESPEKTIF GENDER

Dalam deklarasi Millenium Development Goal yang diselenggarakan di New York tahun 2000 , terdapat 3 tujuan utama pembangunan yaitu :

1. Menanggulangi kemiskinan ekstrim dan kelaparan
2. Mencapai pendidikan dasar universal
3. Mempromosikan keadilan gender dan pemberdayaan perempuan
4. Menurunkan angka kematian anak
5. Memperbaiki kesehatan ibu
6. Membasmi HIV /AIDS, malaria & penyakit lain
7. Menjamin kelestarian lingkungan
8. Mengembangkan kemitraan untuk kerjasama pembangunan
Terdapat 3 point penting mengenai kesetaraan gender yang ada dalam MGD tersebut. Untuk mendukung pelaksanaan MGD, pemerintah Indonesia telah menetapkan beberapa komitmen yang digariskan antara lain:
  1. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa seluruh departemen maupun lembaga pemerintah non departemen di tingkat nasional, propinsi maupun kabupaten/kota harus melakukan pengarusutamaan gender dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pada kebijakan dalam program pembangunan. Substansi ketentuan Inpres Nomor 9 tahun 2000 di atas adalah untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pada seluruh kebijakan dan program pembangunan nasional. Laki-laki dan perempuan dapat memperoleh akses yang sama dalam proses pembangunan termasuk proses pengambilan keputusan, memiliki kontrol yang sama atas sumberdaya pembangunan serta memperoleh manfaat yang sama dari hasil pembangunan.
  2. Kepmendagri No 132 tahun 2003 tentang pedoman umum pelaksanaan pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. Dalam melaksanakan pembangunan daerah, pemerintah daerah (pemda) merencanakan dan melaksanakan agenda pembangunan yang dimanivestasikan dalam bentuk penyusunan dan penetapan APBD. Dengan demikian APBD adalah motor dan pedoman bagi pemerintah daerah (pemda) dalam melaksanakan tugas-tugas pembangunan.
Namun dalam pelaksanaan pembangunan di tengah masyarakat masih sering terjadi kesenjangan gender, yang bahkan tidak disadari oleh kaum perempuan sendiri. Kesenjangan itu tampak dalam berbagai bentuk minimnya partisipasi dan akses kaum perempuan dalam proses pembangunan selama ini. Akibatnya, banyak program pembangunan yang substansinya belum memperlihatkan kesetaraan dan keadilan gender.

Dalam mengukur Pembangunan atas Gender, terdapat 2 Indeks yaitu Indeks Pembangunan Gender yang dikenal dengan IPJ dan Indeks Pemberdayaan Gender yang dikenal dengan IDJ.


Read More »
18.32 | 0 komentar

KEMISKINAN DAN GENDER

Gender dan kemiskinan merupakan isu yang masih baru di Indonesia. Masalah kemiskinan merupakan akar permasalahan yang memiliki dampak sangat luas terhadap peningkatan kualitas hidup perempuan, kesejahteraan dan perlindungan anak seperti perdagangan perempuan dan anak, penurunan derajat kesehatan dan drop out pendidikan.

Disadari atau tidak, di tengah masyarakat terjadi kesenjangan gender, yang bahkan tidak disadari oleh kaum perempuan sendiri. Kesenjangan itu tampak dalam berbagai bentuk minimnya partisipasi dan akses kaum perempuan dalam proses pembangunan selama ini. Akibatnya, banyak program pembangunan yang substansinya belum memperlihatkan kesetaraan dan keadilan gender.

Ketertinggalan kaum perempuan dari laki-laki yang berujung pada ketidakadilan gender antara lain dapat berawal dari konstruk patriarkhi masyarakat yang sudah membudaya, depolitisasi kepentingan negara yang terwujud pada sistem negara yang tidak adil terhadap kepentingan kaum perempuan, interpretasi agama yang tidak benar dan kurangnya akses perempuan dalam berbagai kesempatan. Akomodasi kebutuhan riil perempuan sering dipahami hanya sebatas kebutuhan rumah tangga/keluarga, kesehatan termasuk gizi, pendidikan dan ekonomi. Akibatnya banyak institusi perempuan seperti PKK, Dharmawanita, program P2WKSS yang dimaksudkan untuk memberdayakan perempuan justru menimbulkan persoalan baru bagi perempuan, yaitu beban ganda perempuan. Di satu sisi perempuan didorong untuk aktif dalam berbagai aktifitas, tetapi di sisi lain peran tradisional sebagai istri dan ibu tetap dibebankan kepadanya. Akibat lebih jauh adalah terjadinya subordinasi, marginalisasi, diskriminasi dan eksploitasi bahkan kekerasan terhadap perempuan.

Dalam hal kesejahteraan atau kemiskinan, perempuan mempunyai persepsi yang lebih beragam dibandingkan dengan laki – laki. Di samping terhadap aspek yang berhubungan dengan akses yang berkaitan dengan pendapatan, kepemilikan asset, kualitas kesehatan, pangan serta peluang atau kesempatan, juga mencermati hal – hal yang berkaitan dengan kehidupan keluarga sejahtera atau miskin dalam masyarakat seperti keharmonisan keluarga, rasa aman, ada tidaknya hubungan dengan rentenir, gaya hidup, kemampuan membantu orang tua, membantu orang lain, penyelenggaraan pesta yang meriah atau tidak, serta hubungan dengan tetangga. Dalam kaitannya dengan penyebab kemiskinan, antara laki – laki dan perempuan tidak memperlihatkan perbedaan yang berarti. Perbedaan yang muncul adalah perempuan berpendapat bahwa suami yang memiliki lebih dari satu istri dan memiliki anak yang banyak dinilai sebagai penyebab terjadinya kemiskinan.Sementara itu laki – laki menganggap ketidakcukupan pangan dan hutang sebagai dampak kemiskinan, sedangkan perempuan lebih melihat aspek meningkatnya anak putus sekolah dan kriminalitas sebagai dampak dari kemiskinan.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Bank Dunia di 12 lokasi, di beberapa lokasi khususnya di perdesaan menyatakan bahwa perempuan mempunyai beban kerja yang lebih berat daripada laki – laki. Mereka melakukan pekerjaan rumah tangga, merawat anak, merawat keluarga yang sakit, dan merawat orang tua. Mengingat jumlah perempuan miskin merupakan jumlah yang terbesar dari jumlah seluruh penduduk dan pada umumnya perempuan lebih disiplin serta lebih berhasil dalam mengelola usaha mikro, maka hal ini merupakan nilai positif dalam pemberdayaan perempuan. Namun masih perlu untuk memerangi beban kerja ganda yang ditanggungnya dan perlunya meningkatkan kesetaraan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat keluarga, komunitas dan kebijakan publik.

Pengarusutamaan gender merupakan faktor yang juga harus diperhatikan apabila akan dilakukan target pengentasan kemiskinan dengan angka penurunan minimal 50% pada tahun 2015. Selain itu harus ada perubahan paradigma yang semula program pengentasan kemiskinan lebih ke arah perubahan totalitas masyarakat miskin, sekarang paradigmanya harus melihat elemen-elemen yang ada di masyarakat seperti masyarakat minoritas, masyarakat cacat dan sebagainya. Jika program pengentasan kemiskinan tidak melihat elemen-elemen itu dan kondisi mereka, maka pengentasan kemiskinan akan terhambat.

Tujuan pengentasan kemiskinan sesuai dengan Millenium Development Goals (MDGs) adalah menurunkan jumlah penduduk miskin menjadi setengah, artinya harus bisa mencapai 9,2% pada tahun 2015 dari 18,42% tahun 2003. Penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2001 yaitu 37.710.800 jiwa atau 18% yang terdiri dari laki-laki sebanyak 18.555.600 (18,37%) dan perempuan 18.552.800 (18,42%). Kondisi ini ditandai dengan adanya kerentanan, ketidakberdayaan, keterisolasian dan ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi. kondisi ini juga menunjukan masih tingginya kesenjangan antara laki- laki dan perempuan. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan juga dapat dilihat dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Di bidang pendidikan, rata-rata lama sekolah laki-laki 7,3 tahun, sedangkan perempuan 6,1 tahun. Anak laki-laki yang tidak tamat sekolah dasar 5,34% dan anak perempuan 11,9%. Di bidang kesehatan, angka kematian ibu mencapai 396/100 ribu lahir hidup pada tahun 2001. Aborsi yang terjadi di kota 1.051.470 kasus dan di desa 931.410 kasus. Kasus HIV AIDS berjumlah 3.568 kasus, 840 kasus di Papua dan 468 diderita oleh perempuan.

Ketimpangan ini apabila tidak dicermati secara mendalam, maka akan muncul pemanfaatan sumber daya bagi yang mampu mendapatkan akses, sedangkan yang tidak akan tetap tertinggal dan makin jauh tertinggal. Pada masyarakat miskin kondisi ini akan berpengaruh lebih jelek lagi manakala para pembuat kebijakan dan program mengabaikan perbedaan kondisi dan perempuan serta kemampuan berbagai elemen masyarakat di dalamnya termasuk laki-laki dan perempuan. Kondisi perempuan dan anak pada masyarakat miskin mempunyai kerentanan dan marginalisasi mengingat peran- peran yang ada dalam institusi dan budaya masyarakat masih adanya keterbatasan dalam akses terhadap aset pelayanan ekonomi, produksi dan pelayanan sosial dasar.

Di Indonesia, sumber dari permasalahan kemiskinan yang dihadapi oleh perempuan menurut Muhadjir ( 2005, 166) terletak pada budaya patriarki yaitu nilai-nilai yang hidup dimasyarakat yang memposisikan laki-laki sebagai superior dan perempuan subordinat. Budaya patriarki seperti ini tercermin dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dan menjadi sumber pembenaran terhadap sistem distribusi kewenangan, sistem pengambilan keputusan, sistem pembagian kerja, sistem kepemilikan dan sitem distribusi resoursis yang bias gender. Kultur yang demikian ini akhirnya akan bermuara pada terjadinya perlakuan diskriminasi, marjinalisasi, ekploitasi maupun kekerasan terhadap perempuan

Selain hal tersebut di atas, struktur budaya patriarkhi juga melahirkan keterbatasan perempuan dalam hal pengambilan keputusan baik di dalam keluarga maupun di masyarakat. Dalam keluarga, pengambilan keputusan didominasi oleh kaum laki-laki, demikian juga di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Di ranah publik, eksistensi perempuan juga kurang diperhitungkan, terbukti dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi jabatan struktural baik di legislatif, eksekutif maupun yudikatif yang nota bene juga berperan sebagai pengambil keputusan.

Feminisasi kemiskinan yang demikian ini erat kaitannya dengan masih kuatnya budaya patriarki yang berkembang di masyarakat. karena kultur ini pada intinya meletakkan kaum perempuan pada posisi subordinat, termarjinal dan terdiskriminasi. Oleh karena itu, kemiskinan yang dialami oleh perempuan bersifat spesifik sehingga juga diperlukan penanganan yang khusus seperti halnya pendekatan penanggulangan kemiskinan yang berperspektif gender.


Read More »
18.05 | 0 komentar

Prinsip-Prinsip Dasar Memfasilitasi

Pada umumnya kita sudah berpengalaman terlibat bersama dan bekerjasama dengan orang lain di dalam semacam kelompok atau organisasi yang mempunyai sesuatu tujuan tertentu. Terdapat berbagai macam cara dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan. Banyak kelompok atau organisasi mempunyai seseorang yang ditunjuk dan ditugaskan sebagai pemimpin kelompok atau ketua organisasi. Orang tersebut memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi dalam pertemuan-pertemuan kelompok atau organisasi. Dia sudah mendapat delegasi wewenang untuk mengambil inisiatif dan tanggung jawab untuk mengundang anggota-anggotanya dan mengadakan pertemuan-pertemuan, bertindak sebagai pimpinan sidang, merencanakan agenda dan mungkin membuat keputusan sehari-hari. Inilah bentuk yang paling umum dari kepemimpinan kelompok atau organisasi.

Bagaimanapun juga ada sebuah bentuk alternatif fungsi-fungsi kepemimpinan yang lain untuk disebarluaskan, dipergunakan dan dikembangkan, yaitu semua anggota berbagi dalam tanggung jawab. Dalam hal ini bagaimana menjadi seorang "pemimpin" dalam sebuah kelompok atau organisasi dimana semua anggotanya secara bersama-sama berperanserta dalam proses pembuatan keputusan dan tanggung jawab. Jenis kepemimpinan yang akan kita bahas, yaitu - MEMFASILITASI atau MEMANDU - dirancang untuk membantu kelompok mampu melaksanakan fungsinya lebih efektif dengan jalan menghimpun ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan dan potensi dari seluruh anggota.

Pengertian Memfasilitasi
Istilah "memfasilitasi/memandu" sudah dipakai dalam berbagai cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda. Istilah tersebut dipergunakan untuk diartikan sebagai suatu peranan tertentu dalam sebuah kelompok, yang diasosiasikan dengan nilai-nilai tertentu pula. Dalam pembahasan ini, akan didefinisikan apa yang disebut dengan "facilitation" (memfasilitasi) dan akan diidentifikasi nilai-nilai dan tanggung jawab yang menyertainya.

Memfasilitasi berasal dari kata bahasa Inggris "Facilitation" yang akar katanya berasal dari bahasa Latin "facilis" yang mempunyai arti "membuat sesuatu menjadi mudah". Dalam Oxford Dictionary disebutkan :"to render easier, to promote, to help forward; to free from difficulties and obstacles". Secara umum pengertian "facilitation" (fasilitasi) dapat diartikan sebagai suatu proses "mempermudah" sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Dapat pula diartikan sebagai "melayani dan memperlancar aktivitas belajar peserta pelatihan untuk mencapai tujuan berdasarkan pengalaman". Sedangkan orang yang "mempermudah" disebut dengan "Fasilitator" (Pemandu).

Nilai-nilai Dalam Memfasilitasi
 
Demokrasi : Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut ambil bagian dalam proses belajar dimana dia menjadi peserta tanpa prasangka; perencanaan untuk pertemuan apa saja terbuka luas dan dilakukan secara bersama-sama oleh fasilitator dan para peserta; agenda dirancang untuk memenuhi kebutuhan para peserta dan terbuka terhadap perubahan-perubahan para peserta; dan untuk jangka waktu selama fasilitator bekerja dengan mereka itu, tidak ada struktrur organisasi secara hirarkis yang berfungsi.

Tanggung Jawab : Setiap orang bertanggungjawab atas kehidupan-nya masing-masing, pengalaman-pengalaman dan tingkah lakunya sendiri. Hal ini mencakup pula pada tanggungjawab atas partisipasi seseorang di dalam sebuah pertemuan atau pelatihan. Sebagai fasilitator, bertanggungjawab terhadap rencana yang sudah dibuat, apa yang dilakukan, dan bagaimana hal ini membawa pengaruh pada isi, partisipasi dan proses pada pembahasan itu. Fasilitator juga bertanggungjawab atas dirinya sendiri dan apa yang terjadi pada fasilitator. Fasilitator harus sensitif terhadap bagaimana dan seberapa besar para peserta bersedia dan mampu memikul tanggungjawab pada setiap pertemuan atau pelatihan. Melalui pengalaman, para peserta dapat belajar memikul tanggungjawab yang semakin besar.

Kerjasama : Fasilitator dan para peserta bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama mereka. Orang mungkin akan mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang dilakukan oleh seseorang terhadap sebuah kelompok. Sedangkan fasilitasi/memandu adalah sesuatu yang dilakukan oleh seseorang bersama dengan sebuah kelompok.

Kejujuran : Fasilitator mewakili secara jujur nilai-nilai dirinya sendiri, perasaan, keprihatinan dan prioritas dalam bekerja bersama seluruh peserta pelatihan, dan fasilitator seharusnya menentukan suasana bagi suatu harapan akan kejujuran dari seluruh peserta. Ini juga berarti bahwa fasilitator harus jujur dengan dan terhadap peserta dan terhadap dirinya sendiri menyangkut apa saja yang mejadi kemampuan fasilitator. Fasilitator harus mewakili dirinya sendiri secara adil dan tidak berusaha untuk berbuat terlalu jauh melampaui kemampuannya sendiri dalam peranan sebagai fasilitator.

Kesamaan Derajat : Setiap anggota mempunyai sesuatu yang dapat disumbangkan pada peserta pelatihan dan perlu diberikan kesempatan yang adil untuk melakukan hal itu; Fasilitator menyadari bahwa dia dapat belajar dari para peserta sebesar apa yang mereka bisa pelajari dari fasilitator. Pada saat yang sama, setiap peserta mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan untuk tidak ikut ambil bagian pada pokok bahasan tertentu dalam suatu pertemuan atau pelatihan.

Fungsi dan Peranan Fasilitator

Pekerjaan (fungsi dan peranan) seorang fasilitator ialah memusatkan perhatian pada seberapa baik peserta pelatihan bekerjasama. Tujuan dan fokus ini ialah untuk memastikan bahwa peserta sebuah pelatihan dapat mencapai tujuan mereka dalam pelatihan tersebut.

Fasilitator percaya bahwa masing-masing peserta pelatihan dapat memikul tanggungjawab bersama atas apa yang terjadi, antara lain:
  • Memanggil para peserta untuk mengingatkan mereka akan jadwal pertemuan berikutnya
  • Menjamin bahwa setiap peserta mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan pada sebuah diskusi
  • Meninjau dan mengetahui bahwa agenda yang disusun bertujuan untuk melayani tujuan dan kepentingan peserta pelatihan dan pelatihan itu sendiri.

Akibat pembagian bersama ini yaitu bisa menyamaratakan tanggungjawab atas keberhasilan atau kegagalan suatu pelatihan dan memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk melakukan pengawasan dalam menentukan apa yang yang terjadi dalam sebuah pelatihan dan keputusan-keputusan apa yang diambil.

Seorang fasilitator dapat memenuhi berbagai jenis kebutuhan yang berbeda dalam bekerja dengan peserta pelatihan. Hal ini ditentukan oleh tujuan peserta pelatihan untuk datang dan berkumpul bersama dan segala sesuatu yang diharapkan dari individu yang akan bertindak sebagai fasilitator.

Seseorang tidak perlu diberikan label sebagai "fasilitator" agar menggunakan teknik-teknik fasilitasi didalam sebuah pelatihan. Siapa saja anggota kelompok bisa mengajak kembali kelompok ke bahan pokok diskusi, menyela pola-pola pertentangan atau kesalahpahaman di antara pihak-pihak lain, menawarkan atau mengusulkan komentar-komentar yang bersifat menjelaskan/memperjelas, membuat ringkasan atas kegiatan-kegiatan atau memberikan umpan balik yang bersifat memberikan penilaian. Di dalam beberapa pelatihan, tanggungjawab ini dibagi merata oleh banyak orang atau seluruh peserta. Pada pelatihan lainnya, dimana pesertanya kurang terampil dalam hal proses interaksi belajar, akan mengharapkan fasilitator untuk melakukan peranan ini sendiri saja.

Etika fasilitator

Ada berbagai kemungkinan dan cara dimana peranan dan fungsi fasilitator bisa hilang kendali atau digunakan secara tidak benar. Hal ini sering terjadi tanpa disadari baik oleh peserta pelatihan maupun fasilitator. Masalah ini menjadi tanggungjawab fasilitator itu sendiri untuk mencegah adanya penyalahgunaan posisinya sebagai seorang fasilitator. Menjaga integritas seorang fasilitator memang jauh lebih mudah jika fasilitator sudah memikirkan dengan seksama etika berikut ini dan barangkali perlu mendiskusikannya dengan para fasilitator lainnya.
  • Adalah tidak cukup bahwa hanya fasilitator sendiri yang harus mempunyai nilai-nilai kerjasama dan kesamarataan. Kebanyakan orang terbiasa untuk ikut ambil bagian dalam pelatihan dimana seseorang bertindak sebagai pemimpin, guru atau seorang ahli dan orang itu diperlakukan sebagai orang penting, seseorang yang mempunyai wewenang dan kemerdekaan istimewa. Kecuali jika pelatihan memahami peranan fasilitator, mereka mungkin akan melihat dan menganggap fasilitator sebagai seorang yang berwenang dan membiarkan fasilitator mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap mereka. Adalah penting bagi fasilitator untuk turun dari posisi sebagai "tempat tumpuan" dan membiarkan peserta pelatihan melihat fasilitator sebagai "manusia". Inilah yang disebut sebagai peranan fasilitator yang "tidak menakjubkan". Teknik-teknik khusus untuk melakukan hal ini akan diuraikan lebih jauh
  • Meskipun fasilitator secara sungguh-sungguh berupaya untuk membuat posisi sebagai yang "tidak menakjubkan", namun demikian, fasilitator boleh jadi menemukan bahwa orang-orang bergantung padanya. Mereka mungkin menyerahkan sebagian dari wewenang mereka sebagai peserta kepada fasilitator dan menunggu serta meminta fasilitator untuk membuat keputusan, mendefinisikan suatu situasi dan lain-lain. Ini barangkali merupakan ujian terberat dan terkuat atas nilai-nilai fasilitator itu sendiri – apakah fasilitator akan menerima dan menggunakan wewenang ini, atau apakah fasilitator merefleksikan kembali kepada peserta pelatihan akan kebutuhan mereka untuk memikul tanggungjawab dan membuat keputusan dan definisi-definisi tersebut. Godaan untuk menggunakan wewenang yang didelegasikan kepada fasilitator untuk mengisi kebutuhannya sendiri (meningkatnya harga diri, manipulasi dari suatu situasi demi untuk keuntungan diri sendiri, meskipun manfaat sederhana) akan menjadi kuat. Kenyataan bahwa peserta pelatihan mendelegasikan wewenang pada fasilitator adalah tidak beralasan.
  • Sebuah potensi penyalahgunaan yang sama timbul dari kenyataan bahwa fasilitator itu memainkan suatu peranan yang cerdik dan tanpa memerintah. Fasilitator yang pasif, ramah, bermaksud baik bisa menjadi manipulatif dalam cara-cara dimana seorang pemimpin yang agresif dan kuat tidak akan pernah bisa menghindarinya. Perbedaan antara seorang manipulator yang sangat mempesona dan seorang diktator yang keras sekali mungkin hanya soal apakah peserta pelatihan menyadari atau tidak bahwa mereka sedang dikuasai dan diawasi oleh pemimpin mereka. Itu menjadi tanggungjawab fasilitator untuk tidak menggunakan teknik-teknik fasilitasi untuk mengontrol peserta sebuah pelatihan. Ini memang sungguh terjadi bagi para peserta pelatihan, dan tidak pada peranan kepemimpinan apa saja secara terbuka, yang sedang menggunakan teknik-teknik ini dalam suatu pertemuan atau pelatihan.
  • Tidak ada standard external yang dapat digunakan untuk menilai fasilitator. Siapa saja boleh menyebut dirinya sebagai "fasilitator", dan hal ini tidak perlu mencerminkan pengalaman, keterampilan-keterampilan, atau pemahaman seseorang tentang proses pelatihan. Sayang sekali, ada orang yang menyebut dirinya sebagai fasilitator, menuntut dari peserta pelatihan atau kelompok sasaran suatu pembayaran yang tinggi, tanpa meninggalkan sesuatu yang bernilai yang abadi pada mereka. Kami harap para pembaca panduan ini akan menggunakan informasi yang kami sajikan untuk menjadi lebih efektif dalam membantu kelompok agar berfungsi dengan baik dan dalam saling berbagi keterampilan-keterampilan dengan yang lainnya, bukan untuk keuntungan pribadi.
  • Menjadi seorang fasilitator tidak berarti bahwa fasilitator sudah mempunyai kualifikasi sebagai seorang ahli psikoterapi, baik bersama dengan sekelompok orang atau perorangan berdasarkan situasi. Mengingat cakupan "memandu" atau "memfasilitasi" tekanannya pada nilai-nilai dan perasaan manusia, fasilitator sering dilihat sebagai nara sumber bagi berbagai masalah psikologis pribadi maupun masalah organisasi. Jadi kadang-kadang para peserta menghubungi para fasilitator, baik langsung maupun tidak langsung, dengan kebutuhan emosi mereka. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai suatu pernyataan atas kekurangan nara sumber yang tersedia bagi permasalahan pribadi dari pada sebagai suatu komentar atas keterampilan anda sebagai seorang ahli terapi. Harap berhati-hati.
  • Harus diingat juga bahwa fasilitator, tidak dapat berharap bahwa fasilitator akan mencapai kebutuhan emosionalnya sendiri dalam bekerja dengan peserta pelatihan. Jika fasilitator menggunakan situasi fasilitasi untuk memuaskan beberapa keinginan pribadi (perlu perhatian, respek, kekuasaan, bersahabat, menemukan kekasih), maka hal fasilitator tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan peserta pelatihan. Sering dalam pelatihan, kelompok-kelompok orang-orang menciptakan persepsi-persepsi secara sepihak di antara mereka, yang mengakibatkan pada interaksi-interaksi yang intensif. Jika fasilitator menjadi terlibat secara khusus dengan seorang peserta (atau sekelompok kecil peserta) dan dia mengabaikan yang lainnya, boleh jadi dia akan dilihat sebagai seorang penyokong dari seseorang atau orang-orang dimana dia terlibat bersama. Hal ini bisa merusak seluruh peserta pelatihan. Jika ditemukan sesuatu daya tarik tertentu, ikuti terus menurut kesempatan yang ada.
Pada akhirnya, adalah tanggungjawab fasilitator untuk merasa yakin bahwa peserta pelatihan menyadari apa yang sedang dilakukan bersama mereka: apa saja yang menjadi tujuan fasilitator, bagaimana dia berharap untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, apa yang bisa diberikan kepada mereka dan bagaimana akan dilakukannya.

Adalah tanggungjawab fasilitator itu sendiri untuk mewakili dirinya sendiri secara adil, terbuka menerima kiritik dari peserta pelatihan (fasilitator berada disana sehingga bermanfaat bagi mereka), dan untuk mempertimbangkan merubah tujuan fasilitator guna memenuhi tujuan peserta pelatihan. Adalah hak peserta pelatihan untuk meminta pertanggungjawaban fasilitator atas apa yang diperbuat oleh fasilitator bersama dengan mereka.

Salah satu tujuan dari buku pedoman ini ialah untuk membantu fasilitator untuk menggunakan pengetahuan, pemikiran dan keterampilan dasar yang sudah dipunyai dalam bekerja dengan peserta pelatihan. Dari waktu ke waktu kami akan mendesak fasilitator untuk menggunakan intuisinya sendiri. Hal ini tidak selalu berarti mengambil jalan keluar yang gampang atau mengikuti arah yang paling menyenangkan. Begitu seorang fasilitator mendapat pengalaman dalam hal memfasilitasi, dia belajar untuk mempercayai perasaan inti dari arah dalam menentukan tingkah-laku terbaik dalam suatu situasi tertentu berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, dan suatu pemahaman atas manusia sebagai individu-individu dan dalam kelompok, apakah tingkah-laku ini menyenangkan atau janggal, menggembirakan atau tidak menggembirakan, mudah atau sukar.

Seseorang tidak akan langsung menjadi seorang fasilitator yang efektif hanya membaca sebuah buku. Anda perlu menggabungkan pengalaman, umpan-balik, observasi dan refleksi guna membangun kompetensi. Kami menemukan bahwa pengalaman adalah alat pelatihan yang paling efektif.


Sumber : Panduan Memfasilitasi Pelatihan Partisipatif, Program Delivery, DFID 

 

Read More »
17.45 | 0 komentar

MEMBUAT PESERTA DIDIK AKTIF SEJAK DINI

Ketika anda memulai pelajaran, maka sangat penting (bagi anda) membuat para peserta didik agar aktif sejak awal. Jika tidak, maka anda akan mengambil resiko terjadinya kapasitas seperti halnya semen yang tinggal menunggu waktu untuk mengering. Berbagai kegiatan pembuka struktur (pembelajaran) dibuat agar peserta didik lebih mengenal, mengerak-gerakan, mengajak pikiran mereka, dan memancing perhatian mereka dalam mata pelajaran, pengalaman-pengalaman ini dapat dianggap sebagai ”pembangkit selera makan” terhadap makanan penuh perangsang selera makan tersebut memberikan peserta didik sebuah rasa apa yang harus diikuti. Meskipun beberapa guru memilih memulai suatu pelajaran hanya dengan sebuah pengantar singkat, namun, paling tidak, dengan menambah sebuah latihan pembuka terhadap perencanaan pengajaran anda merupakan langkah pertama yang mempunyai banyak keuntungan. Mari kita eksplorasi bersama mengapa demikian.

Memulai Tujuan

Pada saat-saat paling awal pengajaran aktif, ada tiga tujuan penting yang harus dicapai. Artinya penting tujuan tersebut hendaknya tidak terabaikan, walaupun pelajaran hanya berakhir satu sesion. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut :
Membangun Team (Team building) : bantulah peserta didik menjadi kenal satu sama lain dan ciptakan semangat kerja sama dan saling bergantung.
Penegasan : pelajari sikap, pengetahuan, dan pengamalan peserta didik.
Keterlibatan belajar seketika : ciptakan perhatian / minat awal dalam mata pelajaran.

Semua tujuan ini, ketika tercapai, membantu mengembangkan lingkungan belajar yang melibatkan peserta didik, mengembangkankemauan mereka untuk berperan serta dalam pengajaran aktif dan menciptakan norma-norma ruang kelas yang positif. Mengambil dimanapun mulai dari lima menit sampai dua jam untukkegiatan-kegiatan pembuka (tergantung pada lamanya pelajaran anda) akan menjadi waktu yang baik untuk dimanfaatkan. Memperkenalkan kembali kegiatan-kegiatan ini dari waktu ke waktu dari keseluruhan materi pelajaran juga membantu memperbaharui bangunan team, memperbaiki pengukuran, dan membangun kembali minat dalam mata pelajaran.

Dalam bab ini, kita akan menguji strategi untukmencapai tiga tujuan ini. Anda hendaknya mencari beberapa (dari strategi ini) yang akan berguna bagi anda. Ketika anda memilih strategi-strategi pembuka untuk digunakan didalam kelas, ingatlah beberapa pertimbangan berikut ini :

Tingkat Ancaman :

Apakah pelajaran yang anda ajarkan terbuka terhadap gagasan dan kegiatan baru, atau apakah anda mengantisifasi keragu-raguan dan keberatan dari para peserta didik pada awalnya? Membuka dengan sebuah strategi yang menunjukan tidak adanya pengetahuan dan keterampilan peserta didik dapat berbahaya : mereka mungkin tidak siap mengungkapkan keterbatasan-keterbatasan mereka. Sebagai gantinya, sebuah strategi yang meminta para peserta untuk berkomentar tentang sesuatu yang sudah akrab dengan mereka akan mempermudah keterlibatan mereka dalam pelajaran.

Ketepatan terhadap norma-norma peserta didik.

Sebuah kelas para remaja atau orang dewasa mungkin pada awalnya kurang menerima untuk memainkan permainan-permainan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh sebuah kelompok dari kelas lima. Para peserta didik perempuan mungkin merasa lebih nyaman berbagi perasaan mereka dalam sebuah latihan penyingkapan diri dibandingkan dengan peserta didik laki-laki. Anda menetapkan langkah bagi keseluruhan pelajaran ketika anda memilih sebuah kegiatan pembuka, pertimbangkan audiens anda dan rencanakan secara tepat.

Relevansi terhadap mata pelajaran:

Jika anda tidak tertarik pada sebuah (strategi) tukar-menukar nama secara sederhana, maka berbagai strategi yang mungkin and abaca menawarkan sebuah kesempatan yang baik bagi para oeserta didik untuk memulai mempelajari materi pelajaran. Gantilah sebuah pemecah kebekuan (icebreaker) yang disarankan agar mencerminkan materi yang sedang anda rencanakan untuk diajarkan dalam pelajaran anda. Semakin erat ada hubungan antara latihan anda dengan mata pelajaran, maka semakin mudah transisi yang akan bisa anda buat terhadap berbagai kegiatan pengajaran penting yang harus anda miliki/simpan.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut mempunyai relevansi dengan setiap aspek dari rangkaian pengajaran anda, namun sangat penting dalam tahap-tahap pembuka. Sebuah pembuka yang sukses akan menentukan langkah bagi sebuah kelas (pembelajaran) yang sukses pula. Demikian juga, sebuah pembuka yang nampaknya mengancam, iseng, atau tidak dikaitkan dengan bagian pelajaran anda dapat menciptakan sebuah situasi yang buruk yang sulit untuk diatasi.

Read More »
08.16 | 0 komentar

Jumat, 13 Agustus 2010

Sekilas tentang HIV-AIDS

A. Virus HIV

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.

Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa.

B. Penyakit AIDS

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.

Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan. Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.

C. Metode / Teknik Penularan dan Penyebaran Virus HIV AIDS

- Darah
Contoh : Tranfusi darah, terkena darah hiv+ pada kulit yang terluka, terkena darah menstruasi pada kulit yang terluka, jarum suntik, dsb

- Cairan Semen, Air Mani, Sperma dan Peju Pria
Contoh : Laki-laki berhubungan badan tanpa kondom atau pengaman lainnya, oral seks, dsb.

- Cairan Vagina pada Perempuan
Contoh : Wanita berhubungan badan tanpa pengaman, pinjam-meminjam alat bantu seks, oral seks, dll.

- Air Susu Ibu / ASI
Contoh : Bayi minum asi dari wanita hiv+, Laki-laki meminum susu asi pasangannya, dan lain sebagainya.

Cairan Tubuh yang tidak mengandung Virus HIV pada penderita HIV+ :
- Air liur / air ludah / saliva
- Feses / kotoran / tokai / bab / tinja
- Air mata
- Air keringat
- Air seni / air kencing / air pipis / urin / urine

Tambahan :
Jangan mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban dan berpulang ke rahmatullah dengan ikhlas.

selengkapnya bisa di klik disini



Read More »
02.29 | 0 komentar

Peran Guru dalam meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Keberadaan seorang guru dalam suatu sekolah tidaklah dapat disangkali lagi, karena tanpa guru sekolah tidak akan dapat berjalan. Namun peran guru tidaklah hanya berhenti sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu saja, karena tanpa adanya peran sebagai motivator maka sia-sialah peran guru sebagai sosok yang melakukan transfer ilmu.

Seorang motivator adalah seseorang yang mampu membangkitkan motif atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Berdasarkan kedudukannya sebagai seorang guru tentu memiliki sasaran yang pasti yaitu murid-murid yang dihadapinya sehari-hari. Bangkitnya motivasi mereka untuk meraih suatu prestasi merupakan bagian dari keberhasilannya sebagai seorang motivator dan merupakan suatu kebanggaan melihat murid yang dibimbingnya memiliki suatu prestasi yang optimal.

Tampilnya seorang guru sebagai motivator bagi siswa-siswi yang dihadapinya
sehari-hari bukanlah hal yang mudah. Untuk menjadi seorang motivator bagi siswasiswinya, seorang guru juga harus dapat memberi motivasi bagi dirinya sendiri
yang otomatis menjadi motivator bagi dirinya sendiri.

Sudahkah Anda menjadi motivator bagi diri Anda sendiri ? Tanpa hal ini rasanya akan sulit bagi seorang guru untuk menjadi motivator bagi siswa-siswinya. Saat ini yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara yang terbaik yang harus dilakukan oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan fungsinya sebagai seorang motivator.

Berbagai teori telah dikemukakan namun seringkali gagal. Siswa tetap tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi , yang nampak melalui nilai-nilai akademik, banyaknya siswa-siswi yang membolos sekolah hingga menimbulkan banyak masalah. Contohnya; tawuran diantara siswa.

Hal ini membuat para guru menjadi serba salah dalam bertindak, karena merasa telah melaksanakan berbagai cara ataupun teori namun hasil yang dicapai tidak kunjung terlihat. Sehingga seringkali timbul kesan bahwa guru-guru di Indonesia adalah guru yang memiliki kemampuan minim. Padahal bila dibuktikan akan terlihat bahwa banyak guru di Indonesia adalah guru-guru yang memiliki kompeten tinggi dalam dunia pendidikan.

Namun tidak pula dapat kita sangkali bahwa banyak guru di Indonesia yang hanya melakukan transfer ilmu tanpa mau sedikitpun menjadi motivator bagi muridmuridnya, bahkan tampak adanya kesan bangga bila muridnya mendapat nilai buruk dalam mata pelajaran yang diajarnya, hal ini dianggapnya menunjukkan bahwa semua murid itu bodoh dan hanya gurulah yang pandai.

EMPAT LANGKAH SEORANG MOTIVATOR EFEKTIF

Sebenarnya menjadi seorang motivator bagi siswa-siswi di sekolah bukanlah hal yang sulit. Namun hal ini juga bukan berarti hal yang mudah untuk dilakukan.  Oleh karena itulah penulis mencoba merangkum beberapa pemikiran ke dalam ‘empat langkah, yaitu:

1. Lakukanlah yang terbaik
Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kuncinya adalah belajarlah mencintai apa yang anda lakukan maka Anda akan merasakan hasilnya.

2. Jadilah teladan bagi lingkungan
Teladan yang baik merupakan bukti bahwa seseorang mampu menjadi motivator bagi dirinya. Karena itu merupakan syarat utama sebagai seorang motivator. Contohnya; seorang guru perokok tidak mungkin menjadi seorang motivator bagi siswasiswinya agar tidak merokok

3. Jadikanlah siswa sebagai subyek
Dengan menjadikan seorang siswa sebagai subjek pendidikan, maka kita memberikan kesempatan pada mereka untuk menjadi manusia yang kritis dalam berpikir serta menyampaikan pendapatnya secara demokratis tanpa meninggalkan norma-
norma yang ada.

Menjadikan siswa sebagai subyek dapat kita lakukan dengan cara menjadi pelindung, orang tua atau bahkan seorang sahabat yang memiliki rasa empati bagi mereka (khususnya untuk anak-anak remaja) di saat mereka membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati mereka.

4. Memiliki wawasan yang luas
Seorang motivator tidak akan menjadi motivator yang baik bila tidak memiliki wawasan yang luas mengenai berbagai bidang.

DAMPAK
Dampak yang timbul bila guru menjalankan perannya sebagai motivator antara lain adalah;

a. Timbulnya keinginan pada siswa untuk lebih menekuni materi yang dihadapinya.
Hal ini akan sangat berpengaruh dengan prestasi akademik
siswa.

b. Adanya keinginan yang kuat dalam diri siswa untuk pergi ke sekolah, contohnya; siswa tidak perlu lagi dipaksa untuk pergi ke sekolah.  Mereka  menikmati acara belajar mereka yang berlangsung di sekolah sehingga tidak ada lagi dalam pikiran mereka untuk membolos.

c. Rasa memiliki sekolah; akan timbul bila siswa merasa bahwa sekolahnya adalah suatu tempat yang menyenangkan. Hal ini juga mempengaruhi nama baik sekolah.

Sumber: BPK Penabur (dikutip dari www.duniaguru.com)



Read More »
01.48 | 0 komentar

Media Pembelajaran Efektif

PESERTA didik saat ini sangat menuntut guru untuk mengajar lebih kreatif dan tidak membosankan. Karena itu, guru sangat memerlukan metode dan teknik-teknik baru dalam mengajar. Termasuk, mencari media pembelajaran sebagai bagian dari alat bantu mengajar (teaching aids) yang sangat diperlukan.

Saat ini, jenis media pembelajaran kian beragam di pasaran. Para pendidik bisa mudah mendapatkannya di toko-toko buku maupun membelinya melalui internet. Namun, semua fasilitas tersebut memerlukan dana yang tidak sedikit, sehingga sekolah-sekolah yang kurang mampu belum bisa memanfaatkan media tersebut. Atas pertimbangan itulah, guru dituntut lebih kreatif untuk menciptakan dan menemukan media pembelajaran murah.

Di sisi lain, banyak guru yang beranggapan bahwa media pembelajaran tidaklah terlalu penting dalam proses belajar. Ada juga yang menyatakan, membuat media pembelajaran hanyalah membuang waktu dan tenaga. Sebab, yang terpenting adalah cara guru mengajar dan menerangkan pelajaran di kelas. Daripada harus repot-repot membuat media pembelajaran, lebih baik melakukan hal lain yang lebih terlihat urgensinya. Begitu barangkali pendapat sebagian guru yang tidak mau berepot-repot menyiapkan media pembelajaran.

Sebenarnya, bila kita bisa berpikir kreatif, apa pun yang kita temukan di sekitar kita bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Guru yang kreatif tidak akan terkungkung oleh pemikiran yang terlalu rigid bahwa media pembelajaran harus dibuat sebagus dan seideal mungkin. Paradigma bahwa media pembelajaran haruslah sedemikian rupa dan sempurna harus dibuang jauh-jauh jika guru ingin maju.

Jika mainan anak dapat kita dijadikan media pembelajaran, mengapa kita tidak menggunakannya untuk membantu belajar anak didik kita? Jika barang-barang bekas bisa digunakan sebagai media pembelajaran, mengapa kita tidak memakainya?

Menurut Brinton di Celce-Murcia, ada dua definisi media yang sering digunakan orang. Definisi pertama adalah inovasi teknologi yang digunakan dalam pembelajaran yang biasanya berupa peralatan yang bersifat mekanis. Pengertian kedua adalah segala macam benda yang bisa bersifat mekanis, atau bisa buatan sendiri, atau bahkan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat digunakan dalam pembelajaran.

Jika kita melihat pengertian yang pertama, yang akan terjadi adalah asumsi bahwa media pembelajaran selalu membutuhkan biaya. Tapi, jika kita menggunakan definisi kedua, kita akan terpacu untuk membuat atau menemukan media baru yang bisa dipakai mengajar di kelas. Media tersebut bisa berupa realita, flashcard, gambar peristiwa dan objek, artikel, brosur, pamflet, atau bahkan hal dan benda baru yang belum pernah terpikirkan.

Contohnya, ada seorang guru di Surabaya yang berhasil menggunakan tutup botol kecap (kempyeng) untuk pembelajaran matematika. Contoh lain adalah penemu jarimatika, Septi Peni Wulandari, yang bisa menggunakan media jari-jari tangan untuk belajar berhitung. Ada banyak keuntungan yang didapatkan menggunakan media buatan sendiri. Yang pertama, kita dapat menyesuaikan tingkat kebutuhan peserta didik. Kedua, kita bisa memakainya kembali untuk kesempatan-kesempatan lain dengan menerapkan prinsip SOAR (sort, omit, add, recycle). Keuntungan yang ketiga adalah menghemat biaya alias murah meriah.

Contoh barang-barang bekas yang bisa dipakai untuk media pembelajaran adalah majalah/koran-koran bekas. Dari majalah atau koran bekas, kita bisa memperoleh gambar-gambar atau artikel yang bisa dipakai untuk belajar. Gambar-gambar peristiwa atau kartun-kartun lucu bisa mudah kita temukan di koran.

Di salah satu koran nasional di Jawa Timur misalnya, kita bisa menemukan rubrik Senyum Itu Sehat yang berisi gambar-gambar kartun tanpa caption. Gambar tersebut ternyata dapat dijadikan media pembelajaran bahasa yang efektif. Berikut ini adalah contoh media yang dibuat dari gambar-gambar yang didapatkan dari koran.

Dari gambar berseri di atas kita dapat membuat tiga macam versi media untuk pembelajaran bahasa Indonesia/Inggris. Yang pertama adalah dengan memotongnya begitu saja dari koran dan menempelkannya pada kertas warna untuk kemudian di laminating. Dari gambar berseri tersebut siswa dapat membuat cerita baik tulis maupun lisan. Selain itu guru juga dapat menggunakannya sebagai pancingan terhadap siswa untuk berbicara tentang isu-isu terkini.

Jika kita perhatikan, gambar-gambar tersebut mengangkat topik-topik hangat yang sedang ramai diperbincangkan, misalnya tentang banjir, flu burung, kecelakaan alat transportasi dan sebagainya. Yang kedua adalah dengan memotongnya secara terpisah-pisah sehingga membentuk kartu. Gambar-gambar tersebut kemudian ditempelkan pada kertas karton warna dan dilaminating.

Aktivitas yang dapat dilakukan dengan media gambar kartu adalah siswa dapat belajar berpikir logis untuk mengurutkan cerita. Sedangkan versi terakhir adalah dengan mengopi gambar dalam bentuk transparansi untuk OHP atau memindai dengan scanner untuk ditampilkan di LCD. Gambar tersebut kemudian ditampilkan sebagian dengan tujuan siswa dapat berimajinasi untuk menebak jalan/akhir dari sebuah cerita.

Contoh kedua adalah gambar peristiwa dan objek yang kita dapatkan dari koran/majalah bekas seperti contoh di bawah ini.

Dengan menampilkan gambar tersebut guru dapat mengarahkan siswa untuk berdiskusi tentang topik-topik tentang illegal logging atau tentang manfaat hutan bagi makhluk hidup. Tentunya masih banyak gambar-gambar lain yang dapat kita ambil dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Dengan begitu kita dapat menghemat biaya untuk mencetak gambar-gambar sekaligus memanfaatkan barang bekas sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan.

Paparan di atas adalah sebagian kecil contoh media murah meriah yang dapat dibuat sendiri oleh guru tanpa mengesampingkan peran pembuat media profesional yang hasil karyanya banyak tersedia di pasaran. Dalam hal ini tangan dan mata seorang guru haruslah aktif dalam arti yang positif. Aktif untuk melihat, memilih, memilah dan mengambil hal baru di sekitarnya yang sekiranya bermanfaat untuk perkembangan anak didik.

Inti semua itu, guru secara mandiri harus bisa menyiapkan media pembelajaran untuk membantu peserta didik belajar lebih efektif. Memang membutuhkan waktu untuk menyiapkan media pembelajaran. Tapi, yakinlah, waktu yang telah diinvestasikan untuk mempersiapkan media pembelajaran akan terbayar oleh hasil yang akan didapat. (*)

Sumber:
http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=321208



Read More »
01.45 | 0 komentar

Kiat Memberikan PR

Tugas pekerjaan rumah (PR) sering menjadi sumber ketegangan antara guru dan murid. Bagi sebagian besar guru, PR merupakan cara untuk meningkatkan kemampuan akademik dan mengajarkan siswa untuk menjadi pembelajar mandiri. Tantangan bagi guru adalah bagaimana caranya mendorong siswa agar mengerjakan PR dengan bersungguh-sungguh.

Apa Yang Dapat Kita Lakukan

Komunikasikan kebijakan PR dengan orantua murid. Kirim surat ke orangtua murid untuk menjelaskan tujuan pemberian tugas PR, kapan dan seberapa sering akan diberikan. Berapa waktu lamanya yang anda harapkan bagi siswa untuk mengerjakan PR, and jika memungkinkan beri tahu orangtua kemana murid bisa mendapatkan bantuan ketika menghadapi kesulitan (walikelas, guru mata pelajaran atau tutor sebaya). Dalam surat itu, kita jga memberikan saran kepada orang tua (misalnya, kerjakan soal yang lebih berat terlebih dahulu).

Buat penugasan dapat diakses lewat Internet. Jika sekolah belum menyediakan fasilitas ini, bicarakan dengan kepala sekolah untuk menyediakannya. Atau gunakan saja fasilias yang ada di TeacherWeb.com, sebuah portal yang memungkinkan kita mem-posting penugasan PR, pengumuman dan materi pendidikan lain layaknya buliten kelas kita. Dengan fasilitas ini dapat dimonitor absensi siswa dalam pengerjaan PR. Kita juga dapat mengirim email ke orangtua murid daftar penugasan yang diberikan kepada anaknya, sehingga mereka dapat memantau juga pekejaan anaknya.

Dorong murid untuk memulai mengerjakan PR di akhir kelas. Dengan demikian, siswa dapat menanyakan ihwal PR-nya dan kita dapat mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul dalam pemahaman si

Beri penghargaan bagi siswa yang menyelesaikan PR secara paripurna dalam seminggu. Jadwalkan sebuah kegiatan pada hari Jumat sore bagi siswa tersebut. Bagi yang tidak, gunakan waktu tersebut untuk mengerjakan PR yang 'tertunggak', jika memungkinkan di ruang lain dengan pengawasan guru.

Siapkan sebuah map khusus PR untuk absensi siswa. Sediakan satu map khusus yang berisi penugasan dalam minggu berjalan. Siswa dapat melihat sendiri untuk mengetahui penugasan-penugasan yang mungkin terlewatkan. Sediakan lembar absensi PR, suruh siswa menandatangani lembar itu yang menunjukkan bahwa si siswa sudah mengetahui PR yang diberikan.

Suruh siswa mengisi formulir PR yang tidak dikerjakan. Bagi siswa yang tidak mengerjakan suatu PR disuruh mengisi formulir yang berisi pertanyaan berikut:
  • Apakah siswa memahami PR tersebut?
  • Mengapa tidak mengerjakan PR?
  • Apa rencananya untuk menyelesaikan PR yang tertinggal?
  • Apa yang dapat memastikan siswa tidak akan melalaikan lagi penugasan yang berikutnya?

Kewajiban mengisi formulir ini dapat menjadi faktor yang mencegah siswa tidak mengerjakan PR.  (Mengerjakan PR dianggap lebih ringan dibanding harus mengisi formulir).

Tunjuk teman yang lain sebagai mitra. Teman dapat saling membantu memastikan PR sudah tercatat dengan baik dan materinya sudah tersedia. Mereka juga dapat saling telepon atau SMS untuk mengecek kemajuan pengerjaan PR.

Tinjau banyaknya PR. Jika penugasan dianggap berlebihan, kurangi volumenya. Misalnya, kita memberikan PR untuk membuat sebuah esai panjang, perpendek menjadi 4 paragraf. Tatkala siswa merasa percaya diri bahwa kemampuannya meningkat, kita dapat meningkatkan jumlah/volume PR-nya. Jika ada siswa yang berada di bawah rata-rata, pertimbankan untuk memberikan penugasan yang berbeda. Jika motivasi, bukan kemampuan, yang menjadi faktor keengganan mengerjakan Pr, coba rancang PR yang mencerminkan minat dan kekuatan siswa.

Silahkan mencoba!

Sumber:
Education World  (dikutip dari www.duniagiuru.com)

Read More »
01.43 | 0 komentar

Memaknai Pendidikan Islam : Das Sein Dan Das Sollen

“Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Aku hendak jadikan khalifah di mukabumi.” Mereka bertanya,”Apakah kau tempatkan di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah, sedangkan kami bertasbih memuji Kau, dan menguduskan nama-Mu? (Tuhan menjawab dan) berfirman, “Sungguh Aku tahu apa yang kamu tiada tahu.” (Al-Baqarah 30)


PENDAHULUAN

Manusia adalah mahluk yang ditunjuk dan bersedia untuk menjadi khalifah di dunia. Penunjukan dan kesediaan untuk menjadi khalifah ini memberikannya konsekewensi yang besar karena sebagai mahluk manusia bukanlah mahluk yang terkuat, terbesar, tercepat, tertinggi, terpanjang umurnya, dll. Manusia juga tidak dibekali dengan senjata ditubuhnya seperti cakar yang kuat, bisa yang mematikan, tanduk yang runcing, dll untuk bertahan. Tetapi oleh Tuhan manusia diberi satu bekal yang akan mampu membuatnya menjadi lebih pandai, lebih hebat, dan lebih mulia daripada mahluk lain, yaitu AKAL.

Akal sendiri bukanlah suatu alat yang ‘built-up’ dan siap pakai. Ia haruslah dikembangkan dan diasah sehingga mampu menjadi suatu alat ataupun senjata yang sangat ampuh untuk mampu mengendalikan dan memanfaatkan mahluk Allah yang lain dalam tugasnya sebagai khalifah tersebut. Adalah manusia sendiri yang berkewajiban untuk mengembangkan akalnya tersebut untuk berfikir dan menggunakan akalnya tersebut dalam usaha untuk survive dan hidup sejahtera. Dari sinilah munculnya semua filsafat tentang pendidikan baik itu yang berpaham Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, maupun filsafat agama

APA YANG TERJADI KALAU MANUSIA TIDAK DIDIDIK?

Manusia akan mati dan tidak mampu untuk bertahan hidup. Banyak penelitian tentang ini yang menunjukkan bahwa manusia harus dididik dan dilatih agar dapat bertahan hidup dan tidak mengandalkan naluri semata seperti mahluk lain. Bebek akan langsung bisa berenang tanpa ibunya perlu mengajarinya bagaimana berenang. Burung juga tidak perlu mengajar anak-anaknya untuk terbang karena pada mereka telah diberi bekal untuk dapat hidup dan bertahan tanpa perlu menggunakan akal.

Sebaliknya manusia akan tidak dapat bertahan hidup jika tidak diajari semua yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup. Seekor binatang secara alami akan tahu musuh alaminya tapi tidak demikian dengan manusia. Ia sebenarnya mahluk yang lemah. Bahkan seorang anak manusia yang tidak dibesarkan dalam lingkungan manusia akan cepat mati. Raja Frederik II, penguasa Sicilia abad XIII, mengadakan percobaan untuk mengetahui bahasa apakah yang akan dipergunakan anak-anak apabila mereka dibesarkan tanpa pendidikan orang tua mereka. Sejumlah bayi dibawa ke ‘ruang laboratorium’. Para ibu disuruh memandikan dan menyusuinya, tetapi mereka dilarang mengajak bayinya bicara. Hasilnya mengagetkan. Semua bayi percobaan tersebut mati. Tidak ada lagi yang mau mengulangi percobaan tersebut.

Sebaliknya, pada tahun 1960 para ahli mengadakan percobaan lagi. Para psikolog di universitas Wisconsin mengambil 40 orang bayi yang seluruhnya mempunyai ibu dengan IQ 70 atau kurang (lemah fikiran-feeble minded). Umumnya apabila bayi tersebut tidak ‘diintervensi’ maka pada usia 16 tahun kecerdasan mereaka akan sama dengan kecerdasan ibu mereka. Sekarang mereka dibawa ke Universitas diasuh dan dididik oleh para psikolog. Fikirannya dilatih dan kreativitasnya dikembangkan. Pada usia 4 tahun IQ mereka diukur. Ajaib ! Rata-rata IQ mereka 128 pada satu tes dan 132 pada tes yang lain, atau masuk pada kelompok “intellectually gifted”. Mereka bahkan lebih cerdas daripada anak-anak kelompok menengah yang berpendidikan. Penelitian, yang dikenal sebagai Operation Babysnatch ini menunjukkan bahwa lingkungan lebih berpengaruh daripada faktor keturunan. Manusia dapat dibentuk sekehendak hati dengan mengendalikan lingkungan hidupnya. J.B. Watson, Tokoh Behaviorisme, menyatakan:” Berikan padaku selusin anak sehat, tegap, dan berikan dunia yang aku atur sendiri untuk memlihara mereka. Aku jamin aku sanggup mengambil seorang anak sembarangan saja, dan menddiknya untuk menjadi tipe spesialis yang aku pilih – dokte, pengaacara, seniman, saudagar, dan bahkan pengemis dan pencuri, tanpa memperhatikan bakat, kecenderungan, tendensi, kemampuan, pekerjaan, dan ras orang tuanya.” (Misteri Manusia, Alexis Carrel)

APA YANG HARUS DIAJARKAN PADA MANUSIA?

Jika sudah menyangkut pada apa yang harus diajarkan pada manusia maka setiap jaman, bangsa, negara, daerah, komunitas, dan bahkan sekolah akan memberikan jawaban yang berbeda.

ILUSTRASI

 “Tanpa mengurangi rasa hormatku pada cara pendidikan yang saudara berikan pada anak-anak kami, kami merasa cara kalian tidak baik bagi mereka. Anak-anak kami  menjadi pemburu yang pengecut, lambat dalam berlari, tak mahir memakai panah dan lembing serta tak mengerti tabiat alam.” Demikian jawaban seorang kepala suku di Afrika ketika Rektor Universitas Harvard dengan bangga meminta kepala suku itu mengirim kembali putra-putra terbaiknya untuk dididik di universitas sangat terkenal itu.  Sang kepala suku bicara ketrampilan hidup di padang perburuan dan ia tidak berkenan dengan pendidikan (kurikulum) yang diajarkan di Harvard karena apa yang diajarkan di Harvard sama sekali tidak memberikan pengetahuan dan ketrampilan (life skills) yang dibutuhkan untuk hidup dengan cara yang berlaku di suku tersebut di Afrika.

Apa yang akan kita ajarkan pada anak-anak kita akan sangat dipengaruhi oleh orientasi kita akan hidup itu sendiri. Kalau kita menganggap bahwa kehidupan adalah padang perburuan, binatang, dan tatacara hidup di belantara Afrika maka kita akan setuju dengan pendapat kepala suku tersebut. Pengetahuan akan Matematika, atau bahkan kemampuan berhitung, tidak diperlukan kecuali kemampuan sangat mendasar seperti berapa banyak buruan yang diperoleh hari ini sekedar untuk bertahan hidup.

Tapi hidup kita sekarang saja sudah sedemikian kompleknya sehingga standar pengetahuan dan ketrampilan yang kita butuhkan untuk hidup secara bermartabat mengalami peningkatan yang sangat drastis. Proses globalisasi yang mengakibatkan restrukturisasi dunia yang disertai banjir informasi ini telah berdampak terhadap dunia pendidikan dan kehidupan nyata. Persaingan tenaga kerja dengan keahlian yang sama tidak lagi terbatas pada sumber daya manusia yang ada di daerah yang sama tapi bersumber dari seluruh penjuru dunia. Apa yang kita miliki hari ini tidak akan bisa menjamin masa depan kita di masa depan.
Masyarakat masa depan akan ditandai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat, robohnya batas-batas antar negara sebagai dampak dari percepatan perkembangan telekomunikasi, serta berubahnya secara drastis cara berpikir serta cara hidup manusia akibat pergaulan antar budaya yang semakin ekstensif. Oleh sebab itu untuk memiliki peluang untuk survive, apalagi untuk excel, maka masyarakat masa depan harus memiliki knowledge-based environment yang bersifat global pula (Joni, T. Raka)

APA TUNTUTAN PADA PENDIDIKAN?

Kuasai dunia dengan ilmu pengetahuan. Menurut Alexis Carrel, bila Anda ingin menjadi superman, latihlah tubuh Anda menghadapi tantangan-tantangan yang berat. Kalahkan samudera, taklukkan gunung, jinakkan badai, tantang halilintar.

Dengan tuntutan hidup yang semakin kompleks tersebut maka tuntutan pendidikan juga berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan di masa depan. Apa yang kita lihat pada pendidikan di Indonesia selama ini adalah bahwa kita terlalu menekankan pada nilai akademik atau intellektual saja. Kita menjejali anak-anak kita dengan berbagai ilmu dan pengetahuan dan berharap bahwa itu akan membuat mereka sukses dalam hidup mereka. Padahal pandangan yang menganggap nilai akademis atau intelektualitas sebagai penentu kesuksesan dalam hidup sudah lama ditinggalkan. Sekarang ini dipercayai bahwa nilai-nilai yang non-intelektual seperti :integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri, sinergi dan kerjasama adalah justru lebih penting ketimbang kecerdasan akal semata. Berdasarkan sebuah hasil survei di AS pada tahun 1918 tentang IQ, ditemukan paradoks yaitu bahwa sementara skor IQ anak-anak semakin tinggi, kecerdasan emosi mereka justru menurun. Anak-anak sekarang mengalami masalah emosi lebih banyak daripada generasi pendahulunya. Anak-anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan lebih sulit diatur. (ESQ, Ary Ginanjar Agustian). Yang lebih ironis lagi adalah hasil suatu penelitian yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang ber IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan. Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolok ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang akan dicapai. Seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif justru akan menghasilkan orang-orang yang sukses dan bintang-bintang kinerja, demikian menurut penelitian Cleland
Syukurlah bahwa manusia memiliki kemampuan yang tiada terbatas untuk berkembang (sesuai paradigma universal pendidikan abad 21). Kalau dulu kita hanya mengenal satu ukuran untuk menilai kemampuan manusia melalui IQ (Intelligent Quotient) maka belakangan kita mengenal teori tentang EI (Emotional Intelligence) dan SI( Spiritual Intelligence) (bukan EQ dan SQ). Bahkan saat ini teori Gardner tentang Multiple Intelligence (ada 8 jenis kecerdasan) telah mulai dipakai sebagai teori pembelajaran. Adalah tugas pendidikan untuk membuka kemampuan (unlock the capacity) yang dimiliki seseorang seoptimal mungkin melalui sharing information untuk menjadi manusia yang bukan saja pintar, tetapi juga kritis, dan memiliki daya tahan (adversity) yang tinggi.

Ini semua berarti bahwa pendidikan masa depan haruslah demokratis dengan memberlakukan beragam metode untuk dapat menggali beragam kemampuan siswa agar dapat berperan aktif dalam pengembangan dirinya dengan mengakui perbedaan kemampuan intelektual, kecepatan belajar, sifat, sikap, dan minatnya.

DIKOTOMISASI KEHIDUPAN DUNIA DAN AKHIRAT

Pola pendidikan di negara Barat yang sekuler jelas menunjukkan adanya pemisahan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sekolah tidak mengajarkan agama dan dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak menjadi urusan negara. Orientasi pendidikan di negara Barat adalah kepada pengembangan potensi manusia secara optimal untuk dapat menguasai dunia semata. Pendidikan semacam ini menghasilkan manusia-manusia yang unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tapi kering dalam kehidupan spiritual. Pada akhirnya kemanusiaan terancam oleh bencana nuklir, peperangan tak berkesudahan, pencemaran global, kekosongan eksistensial, keruntuhan moral, kelaparan, penindasan, dll. Yang ditimbulkan oleh pendidikan yang hanya berorientasikan pada kehidupan dunia semata.
Sementara dalam Islam dikenal ayat yang menyatakan bahwa kehidupan dunia hanyalah senda-gurau dan permainan belaka dan kehidupan akhiratlah justru kehidupan yang sesungguhnya (QS 29:64). Ayat ini menjadikan banyak orang Islam yang mencampakkan dunia dan melulu mencari kehidupan untuk akhirat. Pandangan ini bukanlah eksklusif dalam Islam saja. Lao Tse di Cina telah menjadi pelopor kemajuan spiritual dan menghasilkan banyak pendeta, kaum sufi dan gnostik. Di India dikenal banyak para yogi yang tidur di atas paku dan hidup selama empat puluh hari hanya dengan sebutir kurma. Cara-cara kehidupan ini membuat mereka menjadi tertinggal dalam kehidupan modern dan membuat negara-negara Islam  menjadi miskin dan tertinggal. Padahal Ali bin Abi Thalib menyatakan dalam hadistnya yang masyhur, “Seandainya kemiskinan berujud seorang manusia, niscaya aku akan membunuhnya.”

Ini adalah dua dikotomi pemikiran. Kaum sekuler yang berbicara hanya mengenai kepentingan duniawi dan kaum spiritual dan agamawan dengan pemikirannya yang cenderung ‘memusuhi’ dunia. Padahal menurut Dr. Ali Shariati manusia adalah mahluk dua dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik (EI dan IQ) dan juga penting memiliki penguasaan ruhiyah vertikal yang kita kenal dengan Spititual Intelligence. Islam tidak mengharamkan kenikmatan, tetapi yang diharamkan adalah berlebih-lebihan terhadapnya. Manusia dituntut oleh masyarakat harus menampakkan penampilan yang layak dan pakaian yang pantas termasuk kebutuhan jasad berupa makan dan minum. Rasulullah bahkan mengecam para sahabatnya yang berpuasa dan sholat terus-terusan serta tidak menikah dan mengancam mereka sebagai bukan golongannya. Islam mengajurkan kehidupan yang seimbang antara orientasi kehidupan dunia dan akhirat (Al-Qhasash 77).

Pemikiran ini sekarang telah menjadi populer dan banyak para ilmuwan yang telah menyadari betapa rapuhnya kehidupan yang hanya berbicara tentang kepentingan duniawi semata. Para pemuja akal kini telah memalingkan kepalanya kepada kehidupan spiritual, dan sebaliknya para pemuja spiritual yang lari dari kehidupan dunia juga telah merasakan akibat dari pengingkaran mereka akan kehidupan dunia. Theodore Roszak dalam Where the Wasteland Ends mengejek rasionalitas ilmiah dan mengajak orang kepada kepekaan agama. Akal hanya kemampuan manusia yang terbatas dan disamping akal ada lagi spiritual knowledge.

Di kalangan ilmuwanpun kini mulai disadari pentingnya memandang alam sebagai satu kesatuan sistem yang utuh, melihat kekuatan suprarasional, metaempiris dibalik semua kekuatan-kekuatan materialistis. Assagioli, seorang psikolog terkenal dari Amerika bahkan menyatakan bahwa :”Kita sedang berjalan menghampiri ambang agama.”

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN ?

Kita harus menyadari bahwa dikotomi pemikiran kehidupan dunia untuk dunia saja dan kehidupan dunia untuk akhirat saja adalah tidak sempurna. Pendidikan harus diarahkan pada pemahaman manusia kepada dua dimensi, yaitu roh dan jasad, dunia dan akhirat dengan penyeimbangan kebutuhan-kebutuhan keduanya. Jika kebahagiaan hendak kita raih melalui pendidikan maka pendidikan tersebutt haruslah berorientasi pada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dunia kini dan masa depan adalah dunia yang dikuasai sain dan teknologi. Mereka yang memiliki keduanya akan menguasai dunia. Bila Islam ingin kembali memainkan peranannya, tidak bisa tidak ia harus menguasai sain dan teknologi. Kecintaan terhadap ilmu harus disosialisasikan kepada anggota keluarga kita, jamaah kita, dan saudara-saudara kita seagama. Ini berarti bahwa kita harus bersikap terbuka dan berpikir luas. Pendidikan haruslah menjadi prioritas umat Islam. Pendidikan Islam haruslah merengkuh dan berorientasi pada dua kejayaan yaitu kejayaan di dunia dan diakhirat. Ini artinya bahwa pendidikan Islam haruslah mengacu pada penguasaan sains dan teknologi juga dan tidak terpaku pada orientasi kehidupan akhirat semata.

Fakta menunjukkan bahwa pendidikan Islam belum mampu menunjukkan kualitas dan supremasinya sebagaimana yang pernah dicapai pada abad-abad awal kejayaan Islam. Saat ini sekolah-sekolah non-Islam masih mendominasi peringkat atas dalam kualitas pendidikan. Adalah tugas semua umat Islam untuk mensinergikan semua daya dan upaya untuk memperoleh kejayaan di bidang pendidikan melalui strategi ‘berjamaah’ atau kerjasama dan sinergisme. Sekolah-sekolah Islam haruslah ‘berjamaah’ (bersinergi) dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan mereka dan tidak lagi berdiri sendiri-sendiri. Sekolah-sekolah Islam haruslah membangun net-working untuk saling berbagi dan belajar. Sekolah-sekolah Islam haruslah berani menetapkan standar dan target yang lebih tinggi daripada sekolah lain dengan menggunakan berbagai sumber-daya, pendekatan, metodologi dan fasilitas modern yang ada dalam dunia pendidikan. Sekolah-sekolah Islam haruslah menghindari sikap cepat puas-diri yang akan menghancurkan semangat untuk menjadi umat yang terbaik. Dan sebaliknya orang-orang Islam haruslah bersedia untuk mengeluarkan dana lebih besar untuk pendidikan yang berkualitas. Mereka harus berani menuntut sekolah-sekolah Islam untuk menetapkan standard dan target yang lebih tinggi daripada sekolah-sekolah umum maupun non-Islam. Mereka harus benar-benar memahami anjuran Rasulullah SAW (atau dinisbahkan kepadanya) untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina yang berarti tidak hanya puas pada pendidikan lokal saja dan tidak hanya belajar pada sesama Muslim semata. Belajar dari siapapun yang lebih unggul daripada kita sangat dianjurkan. Yang tidak diperkenankan adalah mengubah akidah kita. Penggunaan guru-guru asing penutur asli untuk pelajaran bahasa Inggris sangatlah dianjurkan. Menggunakan tenaga pengajar ahli non-Muslim untuk berbagai mata pelajaran tidaklah dilarang. Apa yang dilarang adalah belajar tentang akidah kepada mereka karena mereka bukanlah pemiliki atau ahli di bidang tersebut. Mengambil pembicara-pembicara non-Islam dalam seminar atau lokakarya sekolah-sekolah Islam tidaklah haram atau tercela karena sifat Islam yang terbuka dan percaya akan keunggulan dirinya.
Guru-guru Islam haruslah bekerja dan belajar dua kali lipat daripada guru-guru lain. Jika guru-guru lain membaca satu buku dalam seminggu maka guru-guru Islam haruslah membaca dua buah buku. Jika guru-guru non-Islam berdiskusi dan berlokakarya seminggu sekali maka guru-guru Islam haruslah berdiskusi dan berlokakarya dua kali seminggu. Guru-guru Islam haruslah membuka dirinya terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, khususnya dalam bidang pendidikan. Mereka  harus mampu menyerap dan mengikuti perkembangan berbagai metodologi pengajaran mutakhir meski berasal dari luar Islam. Islam tidak lagi inklusif tapi telah membuka dirinya terhadap segala perubahan yang terjadi di dunia.

Perlu wawasan ilmiah untuk merekonstruksi pemahaman kita tentang Islam. Umat Islam harus fasih mengenai masalah-masalah tentang inseminasi, euthanasia, perbankan, pendidikan Islam, dlsb seperti fasihnya kita berbicara tentang istinja, tayammum, qunut, haji tamattu, dll.Ilmu dakwah mungkin tidak lagi mengenai makna “hikmah” dan “mujahadah” tetapi mengupas psikologi komunikasi, penggunaan media massa, pengembangan sistem informasi, community networking, dll Dengan demikian Islam akan kembali mendapatkan tempatnya sebagai agama yang sempurna.

PENUTUP

Sebagai model untuk mencapai tingkat kesempurnaan seorang manusia Islam menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah. Beliau adalah model yang harus kita jadikan sebagai patron dalam usaha pengembangan potensi diri yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan tidak terbatas pada pelaksanaan sholat dan komitmen pada hukum-hukum agama saja. Pendidikan juga tidak terbatas pada ambisi-ambisi untuk meraih kehidupan di bidang materi saja. Tetapi pendidikan adalah gabungan dari keduanya tanpa melebihkan satu diantara lainnya.

Sebagaimana Nabi Muhammad yang sepanjang hidupnya mendidik manusia dengan seluruh kepribadian dan prilakunya yang sempurna tersebut, pengikut-pengikutnya haruslah memandang pendidikan sebagai bagian dari dakwah yang merupakan jalan hidup. Pendidikan Islam harus diarahkan untuk mengembangkan iman, sehingga melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat. Iman yang tidak melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan bukanlah iman yang sebenarnya. Prinsip ini mengajarkan bahwa yang menjadi perhatian dalam pendidikan Islam adalah kualitas, bukan kuantitas (ahsan ‘amalan atau amalan shaliha). Rasulullah bersabda bahwa : “Manusia yang terbaik ialah Mukmin yang berilmu. Jika diperlukan, ia bermanfaat bagi orang lain. Jika tidak diperlukan, maka ia dapat mengurus dirinya.” Beliau mewajibkan umatnya menuntut ilmu seraya berkata,”Satu bab ilmu yang dipelajari seseorang adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya.”  Dengan demikian umat Islam haruslah menjadi pelopor dalam pendidikan yang berorientasikan keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat.

Wallahu a'lam bissawab.

Satria Dharma, satriadharma@klubguru.com





Read More »
01.39 | 0 komentar