Blog     Gambar     Video     Berita    
Topik Pilihan : Puisi Buat Guru     Pedoman BKR     Generasi Berencana     Terlambat Datang Bulan     Posisi Sex    





Jumat, 09 November 2012

Definisi dan Kriteria PMKS

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah Seseorang keluarga atau kelompok masyarakat, yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan, tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya ,dan karenanya tidak dapat menjalin hubungan yang serasi dan kreatif dengan lingkungannya sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani, rohani dan sosial) secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan dan gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, keterlantaran, kecatatan, ketunasosialan, keterbelakangan atau keterasingan, dan kondisi atau perubahan lingkungan (secara mendadak) yang kurang mendukung atau menguntungkan.

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) secara besaran dapat dibagi menjadi 8 (delapan) kelompok, yaitu:
  1. Anak
  2. Wanita
  3. Lanjut Usia
  4. Keluarga
  5. Tuna Sosial
  6. Korban Penyalahgunaan NAPZA
  7. Penyandang Cacat
  8. Masyarakat

A. ANAK

Kelompok anak terdiri dari: Anak Balita Terlantar, Anak Terlantar, Anak Nakal, Anak Jalanan, Anak Cacat.
1. Anak Balita Terlantar
Anak yang berusia 0 – 4 tahun yang karena sebab tertentu, orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibanya (karena beberapa kemungkinan: Miskin/tidak mampu, salah seorang sakit, salah seorang/kedua–duanya meninggal, anak balita sakit) sehingga terganggu kelangsungan hidupnya, pertumbuhan dan perkembangannya baik secara jasmani, rohani, maupun sosial.
Kriteria :
  • Anak (Laki – laki/perempuan) usia 0 – 4 tahun.
  • Tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, atau balita yang tidak pernah mendapat ASI/susu pengganti atau balita yang tidak mendapat makanan bergizi (4 sehat 5 sempurna) 2 kali seminggu atau balita yang tidak mempunyai sandang yang layak sesuai dengan kebutuhannya.
  • Yatim piatu atau tidak dipelihara, ditinggalkan oleh orang tuanya pada orang lain, ditempat umum maupun rumah sakit dsb.
  • Apabila sakit tidak mempunyai akses kesehatan modern (dibawa ke PUKESMAS dll).

2. Anak Terlantar
Anak yang berusia 5 – 18 tahun yang karena sebab tertentu (karena beberapa kemungkinan: miskin/tidak mampu, salah seorang dari orang tuanya/wali pengampu sakit , salah seorang/kedua orang tuanya/wali pengampu atau pengasuh meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada pengampu/pengasuh), sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.
Kriteria :
  • Anak (laki–laki/perempuan) usia 5–18 tahun
  • Anak yatim, piatu, yatim piatu maupun masih punya kedua orang tua
  • Tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya
  • Anak yang lahir karena pemerkosaan, tidak ada yang mengurus dan tidak mendapat pendidikan

3.Anak Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau diperlakukan Salah
Anak yang berusia 5 – 18 tahun yang terancam secara fisik dan non fisik karena tindak kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.
Kriteria :
  • Anak (laki – laki/perempuan) usia 5–18 tahun
  • Sering mendapat perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang berakibat menderita secara psikologis.
  • Pernah di aniaya dan atau di perkosa.
  • Dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya)

4. Anak Nakal
Anak yang berusia 5 - 18 tahun yang berperilaku menyimpang dari norma dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, lingkungannya, sehingga merugikan dirinya , keluarganya dan orang lain, akan mengganggu ketertiban umum, akan tetapi (karena usia) belum dapat di tuntut secara hukum.
Kriteria :
  • Anak (laki – laki/perempuan) usia 5 sampai kurang dari 18 tahun dan belum menikah.
  • Melakukan perbuatan (secara berulang) yang menyimpang.

5. Anak Jalanan
Anak yang berusia 5 – 18 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan atau berkeliaran di jalanan maupun ditempat – tempat umum.
Kriteria :

  • Anak (laki-laki/perempuan) usia 5-18 tahun
  • Melakukan kegiatan tidak menentu,tidak jelas kegiatannya dan atau berkeliaran di jalanan atau ditempat umum minimal 4 jam/hari dalam kurun waktu 1 bulan yang lalu, seperti: pedagang asongan, pengamen, ojek payung, pengelap mobil, pembawa belanjaan di pasar dan lain-lain.
  • Kegiatan dapat membahayakan dirinya sendiri atau menggangu ketertiban umum.

6. Anak Cacat
Anak yang berusia 5 – 18 tahun yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan aktivitas secara layak, yang terdiri dari penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental, penyandang cacat fisik dan mental.
Kriteria :
a. Cacat Fisik
  • Anggota tubuh tidak lengkap putus/amputasi tungkai, lengan atau kaki.
  • Cacat tulang/persendian.
  • Cacat sendi otot dan tungkai, lengan atau kaki.
  • Lumpuh.

b. Cacat Mata.
  • Buta total (buta kedua mata).
  • Masih mempunyai sisa penglihatan atau kurang awas (low vision)

c. Cacat Rungu Wicara

  • Tidak dapat mendengar atau memahami perkataan yang disampaikan pada jarak 1 meter tanpa alat bantu dengar.
  • Tidak dapat bicara sama sekali atau berbicara tidak jelas (pembicaraannya tidak dapat mengerti).
  • Mengalami hambatan atau kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain.

d. Cacat Mental eks Psilotik
  • Eks penderita penyakit gila.
  • Kadang masih mengalami kelainan tingkah laku
  • Sering menggangu orang lain.

e. Cacat mental retardasi

  • Idiot: Kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal idiot usia 2 tahun, wajahnya terlihat seperti wajah dungu.
  • Embisil: kemampuan mental dan tingkah laku nya setingkat dengan anak normal usia 3 – 7 tahun.
  • Debil: Kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normausia 8 – 12 tahun

B. WANITA

1. Wanita Rawan Sosial Ekonomi
Seseorang wanita dewasa yang berusia 18 – 59 tahun belum menikah atau janda yang tidak mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari – hari.
Kriteria :

  • Wanita usia 18 – 59 tahun
  • Berpenghasilan kurang atau tidak mencukupi untuk kebutuhan fisik minimum (sesuai kriteria Fakir Miskin).
  • Tingkat pendidikan rendah (umumnya tidak tamat/maksimal pendidikan dasar).
  • Istri yang di tinggal suami tanpa batas waktu dan tidak dapat mencari nafkah.
  • Sakit, sehingga tidak mampu bekerja.

2. Wanita yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah.
Wanita yang berusia 18 – 59 tahun yang terancam secara fisik atau non fisik (psikologis) karena tindak kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan sosial terdekatnya.
Kriteria :

  • Wanita usia 18 – 59 tahun atau kurang dari 18 tahun tetapi sudah menikah
  • Tidak diberi nafkah atau tidak boleh mencari nafkah
  • Diperlakukan secara keras kasar dan kejam (dipukul, disiksa) dalam keluarga
  • Diancam secara fisik dan psikologis (diteror, ditakut – takuti, di sekap) dalam kelurga atau ditempat umum.
  • Mengalami pelecehan seksual (dikantor, di RT, ditempat umum antara lain diperkosa atau dipaksa menjual diri/di eksploitir).

C. LANJUT USIA

1. Lanjut Usia Terlantar
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, karena faktor-faktor tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosialnya.
Kriteria :

  • Usia 60 tahun ke atas (laki-laki/perempuan)
  • Tidak Sekolah/tidak tamat/tamat SD.
  • Makan 2 x perhari
  • Makan-makanan berprotein tinggi (4 sehat 5 sempurna) 4 kali perminggu.
  • Pakaian yang dimiliki kurang dari 4 stel.
  • Tempat tidur tidak tetap.
  • Jika sakit tidak mampu berobat ke fasilitas kesehatan.
  • Ada atau tidak ada keluarga, sanak saudara atau orang lain yang mau dan mampu mengurusnya.

2. Lanjut Usia yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah.
Lanjut usia (60 tahun keatas) yang mengalami tindak kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan terdekatnya, dan terancam baik secara fisik maupun non fisik.
Kriteria :

  • Wanita usia 18 – 59 tahun kurang dari 18 tahun tetapi sudah menikah.
  • Tidak diberi nafkah atau tidak boleh mencari nafkah.
  • Diperlakukan secara keras, kasar dan kejam (dipukul, disiksa) dalam keluarga.
  • Diancam secara fisik dan psikologis (diteror, ditakut-takuti, disekap) dalam keluarga atau ditempat umum.
  • Mengalami pelecehan seksual (dikantor, di RT di tempat umum antara lain di perkosa atau dipaksa menjual diri/dieksploitir).

D. PENYANDANG CACAT

Setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara layaknya yang terdiri dari: Penyandang cacat fisik, Penyandang cacat mental, Penyandang cacat fisik dan mental (undang– undang Nomor 4 tahun 1997).

1. Penyandang cacat fisik.
Seseorang yang menderita kelainan pada tulang dan atau sendi anggota gerak dan tubuh, kelumpuhan pada anggota gerak tulang, tidaknya lengkap anggota gerak atas dan bawah, sehingga menimbulkan gangguan atau menjadi lambat untuk melakukan kegiatan sehari – hari secara layak/wajar.
Kriteria :
  • Anggota tubuh tidak lengkap putus/amputasi tungkai, lengan atau kaki.
  • Cacat tulang/persendian.
  • Cacat sendi otot dan tungkai, lengan atau kaki
  • Lumpuh

2. Penyandang cacat mata (tuna netra)
Seseorang yang buta kedua matanya atau kurang awas (low vision)  sehingga menjadi hambatan dalam melakukan kegiatan sehari – hari secara layak/wajar.
Kriteria :
  • Buta total (buta kedua mata)
  • Masih mempunyai sisa penglihatan atau kurang awas (low vision)

3. Penyandang Cacat Tuna Rungu/Wicara
Seseorang yang tidak dapat mendengar dan berbicara dengan baik sehingga menjadi hambatan dalam melakukan kegiatan sehari – hari secara layak/wajar.
Kriteria :
  • Tidak dapat mendengar atau memahami perkataan yang disampaikan pada jarak 1 meter tanpa alat bantu
  • dengar.
  • Tidak dapat bicara sama sekali atau berbicara tidak jelas (pembicaraannya tidak dapat dimengerti)
  • Mengalami hambatan atau kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain.

4. Penyandang cacat mental
Seseorang yang menderita kelainan mental/jiwa sehingga orang tersebut tidak bisa mempelajari dan melakukan perbuatan yang umum di lakukan orang lain seusianya atau yang tidak dapat mengikuti perilaku biasa sehingga menjadi hambatan dalam melakukan kegiatan sehari – hari secara layak/wajar Penyandang cacat mental terdiri dari:
  • Penyandang cacat mental eks psikotik.
  • Eks penderita penyakit gila.
  • Kadang masih mengalami kelainan tingkah laku
  • Sering mengganggu orang lain.

5. Penyandang cacat mental reterdasi
  • Idiot : Kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal usia 2 tahun, wajahnya terlihat seperti wajah dungu.
  • Embisil : Kemampuan mentral dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal usia 3 – 7 tahun.
  • Debil : Kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal usia 8 – 12 tahun.

6. Penyandang cacat fisik dan mental
Seseorang yang menderita kelainan fisik dan mental sekaligus, atau cacat ganda, seperti gangguan pada fungsi tubuh, penglihatan, pendengaran dan kemampuan berbicara serta mempunyai kelainan mental atau tingkah laku, sehingga yang bersangkutan tidak mampu melakukan kegiatan sehari – hari secara layak/wajar.
Kriteria :
Gabungan dari beberapa kriteria cacat fisik dan mental diatas.

7. Penyandang Cacat Bekas Penyakit Kronis.
Seseorang yang pernah menderita penyakit menahun atau kronis, seperti kusta, TBC paru, yang dinyatakan sembuh/terkendali. Termasuk penyandang cacat jenis ini adalah penderita HIV/AIDS, dan stroke, tetapi mengalami hambatan fisik dan sosial untuk melaksanakan kegiatan sehari – hari secara layak/wajar.
Kriteria :

  • Eks penderita penyakit TBC paru, Kusta dan stroke.
  • Mengalami hambatan/kelainan fisik, meski badan tidak hilang (kusta).
  • Tubuh menjadi bokong dan ringkih (TB paru)
  • Cenderung dijauhi masyarakat karena takut terjangkit/menular (lerophobia dan HIV/AIDS)
  • Mempunyai rasa rendah diri

E. TUNA SOSIAL

Seseorang yang karena faktor – faktor tertentu, tidak atau kurang mampu untuk melaksanakan kehidupan yang layak atau sesuai dengan norma agama, sosial atau hukum serta secara sosial cenderung terisolasi dari kehidupan masyarakatnya. Termasuk tuna sosial adalah: tuna sosila, pengemis, gelandangan dan bekas narapidana.

1. Tuna Susila
Seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenisnya secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan tujuan mendapatkan imbalan uang, materi atau jasa.
Kriteria :

  • Seseorang (laki-laki/perempuan) usia 19 tahun ke atas atau lebih.
  • Menjajakan diri ditempat umum,di lokasi atau tempat pelacuran (bordil), dan tempat terselubung (warung remang-remang, hotel, mall, dan diskotek).

2. Pengemis
Orang-orang yang mendapat penghasilan dengan meminta-minta ditempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang lain.
Kriteria :
  • Anak sampai usia dewasa.
  • Meminta-minta dirumah-rumah penduduk, pertokoan, persimpangan jalan (lampu lalu lintas), pasar, tempat ibadah dan tempat umum lainnya.
  • Bertingkah laku untuk mendapatkan belas kasihan berpura-pura sakit, merintih, dan kadang-kadang mendoakan dengan bacaan-bacaan ayat suci, sumbangan untuk organisasi tertentu.
  • Biasanya mempunyai tempat tinggal tertentu atau tetap, membaur dengan penduduk pada umumnya.

 
3. Gelandangan
Orang – orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai pencaharian dan tempat tinggal yang tetap serta mengembara di tempat umum.
Keriteria :
  • Anak sampai usia dewasa, tinggal di sembarang tempat dan hidup mengembara atau menggelandangan ditempat – tempat umum, biasanya di kota – kota besar.
  • Tidak mempunyai tanda pengenal atau identitas diri, berperilaku kehidupan bebas/liar, terlepas dari norma kehidupan masyarakat pada umumnya .
  • Tidak mempunyai pekerjaan tetap meminta – minta atau mengambil sisa makanan atau barang bekas, dan lain – lain.

4. Eks Narapidana
Seseorang yang telah selesai atau dalam 3 bulan segera mengakhiri masa hukuman atau masa pidananya sesuai dengan keputusan pengadilan dan mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri kembali dalam kehidupan masyarakat, sehingga mendapat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal
Kriteria :
  • Usia 18 tahun sampai usia dewasa
  • Telah selesai atau segera keluar dari penjara karena masalah pidana.
  • Kurang diterima dijauhi atau diabaikan oleh keluarga dan masyarakat.
  • Sulit mendapatkan pekerjaan yang tetap.

F. KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA

Seseorang yang menggunakan narkotika, psikotropika dan zat – zat adiktif lainya termasuk minuman keras di luar pengobatan atau tanpa sepengetahuan dokter yang berwenang.
Kriteria :
  • Usia 10 tahun sampai usia dewasa.
  • Pernah menyalahgunakan narkotika, psikotropika dan zat – zat adiktif lainya termasuk minuman keras, yang dilakukan sekali, lebih sekali atau dalam taraf coba – coba .
  • Secara medik sudah dinyatakan bebas dari ketergantunngan obat oleh dokter yang berwenang.

G. KELUARGA

1. Keluarga Fakir Miskin
Seseorang atau kepala keluarga yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan atau tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian akan tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga yang layak bagi kemanusiaan.
Kriteria :

  • Penghasilan rendah atau berada di bawah garis kemiskinan seperti tercermin dari tingkat pengeluaran perbulan, yaitu pengeluaran biaya hidup tidak melebihi Rp. 62.000,- untuk perkotaan, dan Rp. 50.000,- untuk pedesaan setiap orang perbulan (tahun 2000)
  • Tingkat pendidikan pada umumnya rendah: tidak tamat SLTP, tidak ada keterampilan tambahan.
  • Derajat kesehatan dan gizi rendah
  • Tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni, termasuk tidak memiliki MCK
  • Pemilikan harta sangat terbatas jumlah atau nilainya
  • Hubungan sosial terbatas, belum banyak terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan.
  • Akses informasi terbatas (baca koran, radio)

2. Keluarga Berumah Tak Layak Huni
Keluarga yang kondisi Perumahan dan lingkungannya tidak memenuhi persyaratan yang layak untuk tempat tinggal baik secara fisik, kesehatan maupun sosial.
Kriteria Kondisi rumah :
  • Luas lantai perkapital kota < 4 m2, desa <10 li="li" m2="m2">
  • Sumber air tidak sehat , akses memperoleh air bersih terbatas
  • Tidak mempunyai akses MCK
  • Bahan bangunan tidak permanen atau atap / dinding dari bambu rumbia.
  • Tidak memiliki pencahayaan matahari dan ventilasi udara
  • Tidak memiliki pembagian ruangan
  • Lantai dari tanah dan rumah lembab atau pengap
  • Letak rumah tidak teratur dan berdempetan
  • Kondisi rusak.

3. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana
Masyarakat yang bertempat tinggal diwilayah rawan bencana atau disekitar daerah rawan bencana yang mengakibatkan korban jiwa, penderitaan manusia, kerugian harta benda. Kerusakan alam lingkungannya, kerusakan fasilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan
Kriteria:
  • Wilayah bahaya gunung berapi
  • Daerah aliran sungai yang sering banjir/mungkin banjir
  • Daerah yang kemungkinan besar bisa terjadi bencana longsor
  • Daerah padat penduduk dan kumuh diperkotaan yang rawan bencana kebakaran
  • Daerah pantai yang rawan gelombang pasang/Tsunami
  • Daerah rawan bencana gempa bumi.

sumber: Kementerian Sosial RI

Read More »
16.22 | 0 komentar

Pengertian PSKS

Potensi Kesejahteraan Sosial adalah individu, kelompok organisasi, dan lembaga yang belum memiliki dan atau belum memperoleh pelatihan dan atau pengembangan di berbagai aspek pembangunan kesejahteraan sosial sehingga keberadaannya belum dapat didayagunakan secara langsung untuk mendukung pembangunan kesejahteraan sosial.

Sumber Kesejahteraan Sosial adalah individu, kelompok, organisasi, dan lembaga yang telah memiliki kemampuan dan atau telah memperoleh pelatihan dan atau pengembangan di berbagai aspek pembangunan kesejahteraan sosial sehingga keberadaannya dapat didayagunakan secara langsung untuk mendukung pembangunan kesejahteraan sosial.

Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial adalah Potensi atau sumber yang ada pada manusia, alam, dan institusi sosial yang dapat digunakan untuk usaha kesejahteraan sosial.
Saat ini pembinaan PSKS oleh Departemen Sosial RI meliputi :

  1. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). adalah warga masyarakat yang atas kesadaran dan tanggung jawab sosial serta didorong oleh rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial secara sukarela mengabdi di bidang Kesejahteraan Sosial.
  2. Organisasi Sosial (Orsos). adalah suatu perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan Usaha Kesejahteraan Sosial.
  3. Karang Taruna (KT). adalah Organisasi sosial kepemudaan, wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas sosial sederajat, yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial dan secara organisasi berdiri sendiri.
  4. Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masayarakat (WKSBM). adalah sistem kerjasama antar keperangkatan pelayanan sosial di akar rumput yang terdiri atas usaha kelompok, lembaga maupun jaringan pendukungnya. Wahana ini berupa jejaring kerja dari pada kelembagaan sosial komunitas lokal, baik yang tumbuh melalui proses alamiah dan tradisional maupun lembaga yang sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat pada tingkat lokal, sehingga dapat menumbuh kembangkan sinergi lokal dalam pelaksanaan tugas di bidang Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS).
  5. Dunia Usaha Yang Melakukan UKS, adalah organisasi komersial seluruh lingkungan industri dan produksi barang/jasa termasuk BUMN dan BUMD serta wirausahawan beserta jaringannya yang dapat melaksanakan tanggung jawab sosialnya.

Read More »
16.17 | 0 komentar

Pengertian PMKS

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan, atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya sehingga tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani, rohani, maupun sosial secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan, atau gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterbelakangan, keterasingan/ketertinggalan, dan bencana alam maupun bencana sosial. Saat ini Departemen Sosial menangani 22 jenis PMKS, yaitu sebagai berikut :
  1. Anak Balita Telantar, adalah anak yang berusia 0-4 tahun karena sebab tertentu, orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibannya (karena beberapa kemungkinan : miskin/tidak mampu, salah seorang sakit, salah seorang/kedua-duanya, meninggal, anak balita sakit) sehingga terganggu kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangannya baik secara jasmani, rohani dan sosial.
  2. Anak Telantar, adalah anak berusia 5-18 tahun yang karena sebab tertentu, orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibannya (karena beberapa kemungkinan seperti miskin atau tidak mampu, salah seorang dari orangtuanya atau kedua-duanya sakit, salah seorang atau kedua-duanya meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada pengasuh/pengampu) sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani dan sosial.
  3. Anak Nakal, adalah anak yang berusia 5-18 tahun yang berperilaku menyimpang dari norma dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, lingkungannya sehingga merugikan dirinya, keluarganya dan orang lain, serta mengganggu ketertiban umum, akan tetapi karena usia belum dapat dituntut secara hukum.
  4. Anak Jalanan, adalah anak yang berusia 5-18 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan berkeliaran di jalanan maupun tempat-tempat umum.
  5. Wanita Rawan Sosial Ekonomi, adalah seorang wanita dewasa berusia 18-59 tahun belum menikah atau janda dan tidak mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
  6. Korban Tindak Kekerasan, adalah seseorang yang mengalami tindak kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan terdekatnya, dan terancam baik secara fisik maupun non fisik.
  7. Lanjut Usia Telantar, adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, karena faktor-faktor tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial.
  8. Penyandang Cacat, adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani maupun sosialnya secara layak, yang terdiri dari penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental dan penyandang cacat fisik dan penyandang cacat mental.
  9. Tuna Susila, adalah seseorang yang melakukan hubungan seksual dangan sesama atau lawan jenis secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan tujuan mendapatkan imbalan uang, materi atau jasa.
  10. Pengemis, adalah orang-orang yang mendapat penghasilan meminta-minta di tempat umum dengan berbagai cara dengan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang lain.
  11. Gelandangan, adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan yang tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai pencaharian dan tempat tinggal yang tetap serta mengembara di tempat umum.
  12. Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK) adalah seseorang yang telah selesai atau dalam 3 bulan segera mengakhiri masa hukuman atau masa pidananya sesuai dengan keputusan pengadilan dan mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri kembali dalam kehidupan masyarakat, sehingga mendapat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal.
  13. Korban Penyalahgunaan NAPZA, adalah seseorang yang menggunakan narkotika, psikotropika dan zat-zat adiktif lainnya termasuk minuman keras diluar tujuan pengobatan atau tanpa sepengetahuan dokter yang berwenang.
  14. Keluarga Fakir Miskin, adalah seseorang atau kepala keluarga yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan atau tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian akan tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga yang layak bagi kemanusiaan.
  15. Keluarga Berumah Tidak Layak Huni, adalah keluarga yang kondisi perumahan dan lingkungannya tidak memenuhi persyaratanyang layak untuk tempat tinggal baik secara fisik, kesehatan maupun sosial.
  16. Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis, adalah keluarga yang hubungan antar anggota keluarganya terutama antara suami -istri kurang serasi, sehingga tugas-tugas dan fungsi keluarga tidak dapat berjalan dengan wajar.
  17. Komunitas Adat Terpencil, adalah kelompok orang atau masyarakat yang hidup dalam kesatuan รข€“ kesatuan sosial kecil yang bersifat lokal dan terpencil, dan masih sangat terikat pada sumber daya alam dan habitatnya secara sosial budaya terasing dan terbelakang dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya,sehingga memerlukan pemberdayaan dalam menghadapi perubahan lingkungan dalam arti luas.
  18. Korban Bencana Alam, adalah perorangan, keluarga atau kelompok masyarakat yang menderita baik secara fisik, mental maupun sosial ekonomi sebagai akibat dari terjadinya bencana alam yang menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Termasuk dalam korban bencana alam adalah korban bencana gempa bumi tektonik, letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir, gelombang pasang atau tsunami, angin kencang, kekeringan, dan kebakaran hutan atau lahan, kebakaran permukiman, kecelakaan pesawat terbang, kereta api, perahu dan musibah industri (kecelakaan kerja).
  19. Korban Bencana Sosial atau Pengungsi, adalah perorangan, keluarga atau kelompok masyarakat yang menderita baik secara fisik, mental maupun sosial ekonomi sebagai akibat dari terjadinya bencana sosial kerusuhan yang menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
  20. Pekerja Migran Telantar, adalah seseorang yang bekerja di luar tempat asalnya dan menetap sementara di tempat tersebut dan mengalami permasalahan sosial sehingga menjadi telantar.
  21. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), adalah seseorang yang dengan rekomendasi profesional (dokter) atau petugas laboratorium terbukti tertular virus HIV sehingga mengalami sindrom penurunan daya tahan tubuh (AIDS) dan hidup telantar.
  22. Keluarga Rentan, adalah keluarga muda yang baru menikah (sampai dengan lima tahun usia pernikahan) yang mengalami masalah sosial dan ekonomi (berpenghasilan sekitar 10% di atas garis kemiskinan) sehingga kurang mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Read More »
14.56 | 0 komentar