We Are Creative Design Agency

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Illum, fuga, consectetur sequi consequuntur nisi placeat ullam maiores perferendis. Quod, nihil reiciendis saepe optio libero minus et beatae ipsam reprehenderit sequi.

Find Out More Purchase Theme

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

Pendidikan Budi Pekerti Terintegrasi

Kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan saat ini tetap menempatkan pendidikan budi pekerti sebagai pendidikan yang terintegrasi dengan mata pelajaran lain dalam pembelajaran. Mengintegrasikan suatu muatan pembelajaran ternyata bukan pekerjaan mudah bagi sebagian besar guru. Karenanya, diperlukan strategi tertentu agar pembelajaran pendidikan budi pekerti berjalan efektif.

Secara konsepsional, pendidikan budi pekerti merupakan usaha sadar menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam segenap peranannya sekarang dan masa yang akan datang. Di samping itu, pendidikan budi pekerti merupakan upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, dan perbaikan perilaku peserta didik agar mereka mau dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, dan seimbang.

Secara operasional, pendidikan budi pekerti merupakan upaya membekali peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan selama pertumbuhan dan perkembangannya sebagai bekal bagi masa depannya. Tujuannya agar mereka memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan terhadap sesama makhluk.


Pendangkalan konsep

Dikhawatirkan, dengan pengintegrasian yang tidak tepat, pendidikan budi pekerti dalam pembelajaran akan mengalami pendangkalan makna, setidaknya pendangkalan konsep. Bisa jadi pembelajaran budi pekerti menjadi tidak lebih sekadar pendidikan etika atau sopan santun. Padahal, sesungguhnya etika atau sopan santun hanyalah bagian dari pendidikan budi pekerti.

Secara etimologis, istilah budi pekerti, atau dalam bahasa Jawa disebut budi pakerti, dimaknai sebagai budi berarti pikir, dan pakerti berarti perbuatan. Dengan demikian, budi pakerti dapat diartikan sebagai perbuatan yang dibimbing oleh pikiran; perbuatan yang merupakan realisasi dari isi pikiran; atau perbuatan yang dikendalikan oleh pikiran.

Budi pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui ukuran norma agama, norma hukum, tata krama, dan sopan santun, norma budaya/adat istiadat masyarakat. Pendidikan budi pekerti akan mengidentifikasi perilaku positif yang diharapkan dapat terwujud dalam perbuatan, perkataan, pikiran, sikap, perasaan, dan kepribadian peserta didik. Budi pekerti luhur dapat menciptakan sikap sopan santun, suatu sikap dan perbuatan menunjukkan hormat, takzim, tertib menurut adat yang baik yang menunjukkan tingkah laku yang beradab.

Dewasa ini, masyarakat sering menggunakan istilah etiket atau etika, yang diartikan sama dengan tata krama, unggah-ungguh, dan subasita. Ketiga istilah ini selalu dihubungkan dengan sikap dan perilaku sopan santun. Dalam konteks ini, etika dihubungkan dengan norma sopan santun, tata cara berperilaku, tata pergaulan, dan perilaku yang baik.

Tata krama, berasal dari kata tata, yang berarti atur, dan krama, yang berarti langkah. Sedangkan subasita, berasal dari kata su, yang berati baik, dan basita, yang berarti bahasa. Dengan demikian, tata krama berkaitan dengan perilaku seseorang, sedangkan subasita berkaitan dengan cara memilih kata dan kalimat dalam berbahasa dan bagaimana pengucapannya. Lain halnya dengan unggah-ungguh yang merupakan hal yang bersangkutan dengan aturan sikap dan cara menempatkan diri dalam perbuatan atau bertindak. Misalnya, dalam berbicara harus mengatur sikap anggota tubuh dan alat suara.

Pengintegrasian pendidikan budi pekerti dalam pembelajaran perlu diperjelas wujudnya. Di antaranya, hendaknya implementasi pendidikan budi pekerti bukan hanya pada ranah kognitif saja, melainkan harus berdampak positif terhadap ranah afektif dan psikomotorik yang berupa sikap dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konsepsi Ki Hadjar Dewantara, pembelajaran sebagai produk menyangkut tiga unsur, ialah ngerti, ngrasa, dan nglakoni, atau tri-nga. Ketiga unsur itu saling berkaitan. Ketiga unsur itu perlu diperhatikan, supaya nilai yang ditanamkan tidak tinggal sebagai pengetahuan saja tetapi sungguh menjadi tindakan seseorang.

Secara teknis, setidaknya dapat ditempuh dua macam strategi dalam pengintegrasian pendidikan budi pekerti dalam pembelajaran. 
  1. Pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari, yang dilakukan melalui keteladanan, kegiatan spontan, teguran, pengondisian lingkungan, dan kegiatan rutin. 
  2. Pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan, yang merupakan kegiatan yang jika akan dilaksanakan terlebih dahulu dibuat perencanaannya atau diprogramkan oleh guru. Hal ini dilakukan jika guru menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip moral yang diperlukan.

Akhirnya, secara kurikuler pengintegrasian pendidikan budi pekerti dalam pembelajaran yang diprogramkan perlu perhatian para guru. Mengingat banyaknya muatan-muatan lain dalam mata pelajaran sehingga kurikulum kita sangat sarat muatan. Tanpa kemampuan guru yang baik dalam mengintegrasikan pendidikan budi pekerti terprogram, bukan tidak mungkin pembelajaran akan gagal oleh karena berbagai sebab. Misalnya, fokus pembelajaran tidak jelas, keterbatasan memilih model dan metode pembelajaran, sulitnya merumuskan tujuan pembelajaran terintegrasi, dan sebagainya.***

Ki Sugeng Subagya : Penulis, pamong Tamansiswa, pemerhati pendidikan dan kebudayaan.

Senin, 20 Februari 2012

Pentingnya PAUD dalam Membangung Anak Bangsa

Pendidikan sebagai suatu aspek yang ke depannya akan menemui suatu perubahan atas perkembagan zaman atau globalisasi harus dibentuk sedini mungkin yang menyangkut sumber daya di dalam pendidikan. Peserta didik merupakan sumber daya yang harus dikembangkan segala potensinya melalui pendidikan. Potensi yang dikembangkan menitikberatkan pada intelegensi dan karakter. Hal ini bertujuan untuk membentuk peserta didik yang tangguh dan siap menghadapi masa depan serta dalam ranggka membangun bangsa.

Sebagai upaya dalam membangun masa depan maka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai pendidikan awal yang memuat berbagai aspek baik dalam membentuk intelegensi sampai membentuk karakter tentunya sangatlah tepat untuk ditumbuhkembangkan. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik, dan non fisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spritual), motorik, akal-pikiran, emosional, dan sosial yang tepat dan benar agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Upaya yang dilakukan mencakup stimulasi intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi, dan penyediaan kesempatan-kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif.

Pendidikan anak usia dini merupakan strategi pembangunan sumber daya manusia harus dipandang sebagai titik sentral mengingat pembentukan karakter bangsa dan kehandalan SDM ditentukan bagaimana penanaman sejak anak usia dini. Pentingnya pendidikan pada masa ini sehingga sering disebut dengan masa usia emas (the golden age). Pembangunan anak usia dini melalui pendidikan anak usia dini dibentuk melalui berbagai layanan seperti KB, TK, TPA, RA bahkan berusaha disinergikan melalui posyandu dan BKB yang merupakan usaha di dalam menanamkan nilai-nilai, perkembangan mulai dari jasmani sampai rohani serta dalam mengembangkan intelektual anak usia dini. Akan tetapi dalam kenyataannya layanan-layanan PAUD ini belum merata dan belum dapat disinergikan serta diintegrasikan secara menyeluruh pada masyarakat. 
Hal ini memunculkan perhatian dari dunia internasional melalui berbagai perundingan yang pada intinya akan berusaha memperbaiki layanan, mempersiapkan sumber daya yang berkualitas serta sampai pada usaha dalam meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat. Bersamaan respon baik dari dunia internasional mengenai perhatiannya serta usahanya dalam membentuk pendidikan anak usia dini yang unggul maka hal inilah yang menjadi tonggak di dalam dunia pendidikan yang secara tersirat mengungkapkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu tahap penting di dalam menyongsong masa depan bangsa.

Bermain adalah Belajar

Belajar pada dasarnya merupakan proses yang terbentuk pada diri seseorang dari hasil interaksi baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia yang menuju pada perubahan tingkah laku. Belajar identik dengan proses memperoleh dan mendapatkan pengetahuan atau ilmu. Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa belajar merupakan proses dari ketidaktahuan akan suatu hal menjadi tahu atau paham akan suatu hal tersebut. Belajar pada hubungannya dengan bermain sering diperbincangkan oleh banyak orang sebagai dua kata yang memiliki makna kontras. Bermain identik pada kegiatan yang dapat memberikan rasa senang dan kegiatan tersebut merupakan bentuk yang menjadi kesukaan, namun dalam bermain terjadi pencapaian kepuasan yang hanya sesaat. Anggapan bermain tersebut bagi beberapa orang membawa pada terpecahnya makna belajar dan bermain yang menimbulkan sekat antara belajar dan bermain.

Bagi kebanyakan orang tua menganggap bahwa anak sebaiknya memiliki porsi belajar yang lebih tinggi dari pada porsi bermain. Hal ini mengakibatkan berkurangnya porsi bermain pada anak yang telah tergantikan dengan porsi belajar. Anggapan beberapa orang tua tersebut berlandaskan bahwa belajar merupakan bekal kelak sang anak mencapai cita-cita dan bermain hanya sebagai penghambat meraih cita-cita tersebut. Dalam arti yang lebih sederhana dapat disimpulkan oleh beberapa orang tua bahwa belajar lebih baik dari pada bermain. Pada segi anak yang menerima perlakuan demikian tentunya tidak mampu berkata untuk menolak, sehingga dalam diri sang anak akan tertanam konsep belajar lebih baik dari pada bermain.

Tak hanya beberapa orang tua yang berpandangan negatif terhadap bermain, namun beberapa pendidik juga berpandangan demikian. Hal ini tercermin pada pembelajaran yang kerap kali dilakukan oleh pendidik dengan menghadirkan konsep dan pola belajar yang sebenarnya, dalam artian tidak mempedulikan konsep bermain atas belajar. Sebagian pendidik lebih senang dan bangga apabila di dalam ruang kelas para peserta didik tekun dalam belajar dengan memperhatikan penjelasan pendidik dan sering membaca buku serta tidak menimbulkan suara gaduh atau ramai. Padahal dalam bermain terjadi proses pembentukan pemahaman mengenai suatu hal dan pengalaman dalam diri anak yang sebenarnya jika anak difasilitasi untuk bermain maka akan terbentuk suatu daya kreatifitas dan daya imajinatif dalam diri sang anak.

Bermain bukan lagi suatu kegiatan tanpa makna, melainkan suatu kegiatan yang mampu merangsang anak dalam mengembangkan dirinya. Pemberian fasilitas untuk bermain juga harus dimengerti sebagai proses dalam mengembangkan pemahaman dan pengalaman sang anak, bukan sebagai kegiatan menyenangkan hati sang anak atau mencegah anak menangis. Pemberian fasilitas bermain seyogyanya dilakukan dengan berbagai permainan yang bermakna, sehingga anak akan terangsang terhadap makna permainan itu sendiri yang merupakan penjelasan akan suatu hal. Misalnya permainan bermain peran mengenai profesi, dalam permainan tersebut anak akan dirangsang untuk menjadi seseorang contohnya polisi, dokter, guru, pilot dan lain-lain, kemudian anak akan berusaha memahami dan melakukan bagaimana peran masing-masing profesi tersebut.

Berdasarkan pengertian mengenai bermain maka sudah tidak bisa terbantahkan lagi bahwa di dalam kegiatan bermain terjadi proses belajar. Oleh karena itu, seyogyanya sebagai orang tua bahkan pendidik mampu memfasilitasi anak dalam hal bermain karena bermain merupakan dunia anak yang tidak akan tergantikan pada waktu anak itu sudah dewasa. (Fatchan Chasani)

Jumat, 13 Januari 2012

Pendidikan Memanusiakan Manusia ?

Bahwa dari zaman ke zaman manusia telah berupaya mengkonsepsikan dan mengimplementasikan pendidikan secara variatif. Kendati demikian, secara esensi dan misinya menunjukkan pada garis yang sama yakni bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan upaya untuk mempersiapkan manusia guna menghadapi berbagai tantangan perubahan yang terjadi sesuai dengan tuntutan zaman, sekaligus merupakan upaya untuk menjamin kelangsungan eksistensi kehidupan manusia itu sendiri. Dengan melalui pendidikanlah hingga saat ini manusia telah mampu mempertahankan eksistensinya dan terus menerus menuju peradaban yang semakin maju dan kompleks.

Perkembangan institusi Pendidikan

Dalam perjalanan peradaban manusia selanjutnya, mereka senantiasa manjaga dan melanjutkan tradisi pendidikan melalui berbagai bentuk dan institusi pendidikan. Masing-masing model dan bentuk pendidikan saling berlomba untuk mendidik manusia agar menjadi lebih baik. Berbagai usaha yang dilakukan manusia untuk melakukan pendidikan tersebut lambat laun memunculkan berbagai model dan institusi pendidikan yang tercatat dalam sejarah pendidikan, misalnya Academia di Yunani, Padepokan dan Pesantren di Jawa, Monastery di kalangan gereja, Madrasah di kangan masyarakat Muslim atau pun Santiniketan di India, dan masih banyak lagi. Salah satu institusi pendidikan yang sekarang menjadi model yang dominan adalah dikenal dengan isitilah “Sekolah” atau “Universitas”.

Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya adalah menjadi kewajiban kemanusiaan maupun sebagai strategi budaya dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Dengan kata lain, pendidikan merupakan salah satu strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan keberlangsungan eksistensinya. Pendidikan dipahami dan maknai sebagai sebagai sebuah wahana untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, alat pembentukan watak, alat pelatihan keterampilan, alat mengasah otak, serta media untuk meningkatkan keterampilan kerja.

Sementara ada juga yang memaknai bahwa pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran berbangsa dan bernegara, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, untuk mengangkat status sosial, pengusaan teknologi, serta media untuk menguak misteri jagad raya. Pendidikan juga sebagai wahana untuk memanusiakan manusia, serta wahana untuk pembebasan manusia. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia, banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. Bagi kalangan Muslim ada sebuah keyakinan beragama bahwa, “menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi kaum Muslim laki-laki dan perempuan”. Hal ini menunjukan betapa pentingnya arti pendidikan bagi umat manusia, sebab pendidikan akan sangat berpengaruh pada kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat (nirwana) kelak.

Sejarah perjalanan dan perkembangan pendidikan telah melahirkan sejumlah filsafat pemaknaan yang melandasinya. Terdapat tiga aliran paham filsafat yang masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yang ketiganya lahir pada zaman abad pencerahan menjelang zaman modern.  
  1. Nativisme atau Naturalisme, tokohnya antara lain; J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian bahwa pendidikan pada hakekatnya sekedar sebuah proses pemberian kemudahan agar seseorang berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik. 
  2. Empirisme atau Environtalisme, yang ditokohi oleh John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian anak manusia ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik. 
  3. Dan Konvergensionisme atau Interaksionisme, yang dipelopori oleh William Stern (1871-1939). Menurut pandangan ini, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara faktor pembawaan (genetik) dengan lingkungan (venotif). Pribadi manusia akan terbentuk sebagai sebuah hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang lebih rasional.
Institusi pendidikan modern mengadopsi pemikiran ini dalam rangka “mencetak” manusia yang berpendidikan dan berbudaya. Bahwa faktor gen (bawaan), sering dibahasakan dengan bakat dan minat, yang sudah dibawa sejak lahir akan berinteraksi dengan faktor lingkungan. Keduanya akan diolah sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu menjadikan anak manusia yang mumpuni, beradab dan berbudaya.

Namun, dengan semakin materialistisnya institusi pendidikan modern saat ini akankah mereka yang cerdas secara genotif, namun miskin, dapat mengolah dan mengolaborasi dengan faktor lingkungan didalam sebuah institusi pendidikan yang biayanya selangit? Benarkah masih ada kesetaraan kesempatan (egaliterarian) berpendidikan? Jika demikian adanya, maka misi dan makna pendidikan sebagai wahana untuk memanusiakan manusia dan membebaskan manusia sudah tidak relevan lagi.



Kaum Biasa

Kamis, 17 November 2011

Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)

Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada anak-anak. Orang-orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri, menderita kekurangmampuan pengendalian moral.

Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. Menurut Harmoko (2005) Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang indiovidu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.

Sedangkan menurut Dio (2003), dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan disini bisa meliputi atasan, rekan sejawat, bawahan atau juga pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali individu tidak mampu menangani masalah–masalah emosional di tempat kerja secara memuaskan. Bukan saja tidak mampu memahami perasaan diri sendiri, melainkan juga perasaan orang lain yang berinteraksi dengan kita. Akibatnya sering terjadi kesalahpahaman dan konflik antar pribadi.

Berbeda dengan pemahaman negatif masyarakat tentang emosi yang lebih mengarah pada emosionalitas sebaiknya pengertian emosi dalam lingkup kecerdasan emosi lebih mengarah pada kemampuan yang bersifat positif. Didukung pendapat yang dikemukakan oleh Cooper (1999) bahwa kecerdasan emosi memungkinkan individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar, selanjutnya mampu menggunakan daya dan kepekaan emosinya sebagai energi informasi dan pengaruh yang manusiawi. Sebaliknya bila individu tida memiliki kematangan emosi maka akan sulit mengelola emosinya secara baik dalam bekerja. Disamping itu individu akan menjadi pekerja yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan, tidak mampu bersikap terbuka dalam menerima perbedaan pendapat , kurang gigih dan sulit berkembang.

Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).

Selasa, 15 November 2011

KADERISASI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER

“Jika ingin memanen dalam 3 bulan, maka tanamlah padi, jika ingin memanen dalam 10 tahun maka tanamlah pohon, tapi jika mengharapkan perubahan 100 tahun kedepan didiklah sebuah generasi”.

Dalam ungkapan di atas menujukkan sebuah fakta yang layak kita pikirkan dengan hati nurani dan keseriusan, bahwa mendidik sebuah generasi untuk transisi dan regenerasi adalah mutlak jika kita menginginkan sebuah perubahan menuju perbaikan. Kata regenerasi identik dengan pemuda, maka tak heran ketika Bung Karno mengatakan “Berikan Aku sepuluh pemuda maka Aku akan mengubah negri ini”. Ini membuktikan bahwa peran pemuda sangat dibutuhkan untuk sebuah regenerasi. Begitu juga dengan Bung Tomo yang berhasil memukul mundur penjajah di kota Pahlawan Surabaya yang tak lain lakonnya adalah para pemuda Arek-arek Suroboyo, dan banyak lagi sejarah ataupun peristiwa yang digagas oleh para pemuda.

Berbicara tentang pemuda, negeri ini sedang di uji dengan bergabungnya beberapa pemuda di gedung parlemen, akankah peran pemuda tersebut membawa perubahan pada negri ini? kita lihat saja nanti satu dua tahun mendatang, dan inilah awal regenerasi yang diterapakan secara perlahan.

Dalam mendidik sebuah generasi untuk transisi dan regenrasi perlu adanya sebuah kaderisasi. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa itu kaderisasi? Untuk siapa kaderisasi itu? Perlukah kaderisasi itu?
Apa yang anda pikirkan ketika pertama kali mendengar kata kaderisasi?

Kaderisasi merupakan sebuah transformasi nilai-nilai dan sebuah proses pengoptimalan potensi-potensi manusia. Jadi, kaderisasi disini identik dengan pendidikan ataupun pembinaan. Pendidikan yang memang sejatinya mahasiswa jalankan di sebuah kampus. Memaknai pendidikan pun juga harus dilihat secara integral, yang mana seseorang dituntut untuk memiliki hardskill, softskill dan lifeskill agar dirinya dapat menjadi seorang pribadi yang utuh secara karakter.

Hardskill adalah hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi akademik dan profesi. Kemampuan ini secara teori bisa didapat dibangku perkuliahan, dan secara aplikasi bisa dikembangkan di lapangan maupun diwadahi oleh lembaga kemahasiswaan (Lembaga Minat Bakat). Softskill adalah hal-hal terkait kemampuan intrapersonal seseorang yang bisa sangat berguna dalam menjalankan kehidupan sosial. Seperti kemampuan memimpin (leadership), bekerjasama (teamwork), berbicara di depan umum, manajemen diri dan waktu. Untuk softskill ini bisa didapatkan melalui pengalaman. Peran lembaga kemahasiswaan adalah membuat wadah untuk para mahasiswa agar mereka bisa mengaktualisasikan dirinya, serta yang terakhir adalah lifeskill yang berkaitan dengan idealisme seseorang yang akan menjadikan landasan bagi dirinya dalam menjalankan aktifitasnya. Pentingnya idealisme dalam diri seseorang akan berdampak pada visi yang jelas dalam kehidupannya serta akan bermanfaat pula untuk lingkungan sekitar.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi yang diberikan oleh Tuhan, dan karakter manusia sangat ditentukan oleh lingkungan. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh masa lalu, teman sepermainan, kawan yang beraktifitas bersama, lingkungan akademik yang juga membentuk pola pikir, serta lingkungan kampus yang juga dapat mempengaruhi dalam pembentukan karakter. Sehingga bisa dikatakan lingkunganlah yang akan membuat seseorang menemukan karakternya.

Character Building

Membangun karakter atau yang lebih populer dengan istilah Character Building, merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Istilah ini biasanya banyak dijual di kursus-kursus kepribadian, bahkan diobral di seminar-seminar yang bertajuk pengembangan diri, entah itu dalam bentuk implementatif maupun hanya sekedar teori. Oleh karenanya wajar apabila kemudian timbul pertanyaan dari pembaca yang budiman : “Membangun karakter? Apa, sih? Cape, deh!”

Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, pengertian karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, seperti tabiat, watak, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Sedangkan pengertian dari membangun adalah proses pengolahan dan pembentukan suatu unsur atau materi yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru dan berbeda. Dari kedua pengertian tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa membangun karakter adalah suatu proses pembentukan watak atau budi pekerti. Tentunya dalam pengertian yang positif, tujuan dari pembentukan watak atau budi pekerti di sini adalah menjadi lebih baik dan terpuji dalam kapasitasnya sebagai pribadi yang mempunyai akal budi dan jiwa.

Pertanyaan berikutnya : So what gitu, lho? Apa hubungannya dengan kita-kita yang ada di Pengadilan Pajak? Adakah dia bisa membuat kita lebih cantik atau ganteng, kelihatan lebih seksi dan awet muda? Jawabannya adalah ya! Why not? Apabila hal tersebut kita kaitkan dengan inner beauty atau inner handsome, tentu pribadi yang baik dan jiwa yang sehat akan memancarkan aura yang positif yang bisa membuat kita kelihatan lebih cantik atau tampan, seksi, dan awet muda.

Dalam perspektif yang lebih luas, hal tersebut dapat kita korelasikan dengan harapan dan usaha kita untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik. Sebagaimana kita mahfum, gaji dan tunjangan yang kita terima setiap bulannya, sebagian besar bersumber dari pajak yang dipungut oleh Negara dari rakyat, dan hal itu bisa diartikan bahwa sejatinya kita ini adalah pegawainya rakyat, maka sebagai pegawai rakyat, kita wajib untuk bekerja seoptimal mungkin untuk rakyat. Paradigma bahwa Pegawai Negeri adalah Penguasa (The Lord) yang bisa bersikap seenaknya dan sewenang-wenang kepada rakyat, semestinya diubah menjadi Pegawai Negeri yang berkarakter (terpuji), yaitu Pegawai Negeri yang mendefinisikan dan memosisikan diri sebagai Pelayan Rakyat (Public Servant).

Lalu pertanyaannya sekarang : How? Dengan cara apa kita bisa membangun karakter yang terpuji itu? Jawabannya adalah banyak cara untuk itu, baik melalui pendidikan formal dan informal, maupun melalui aktualisasi diri. Salah satu cara yang telah diupayakan Sub Bagian Kepegawaian/Sumber Daya Manusia di Pengadilan Pajak adalah melalui pendidikan informal, yaitu training ESQ. Fenomena training ESQ beberapa waktu yang lalu bisa kita ibaratkan sebagai oase di padang yang tandus. Meski efek positifnya hanya terasa kurang-lebih seminggu, namun hal tersebut memberikan secercah harapan bahwa sesungguhnya kita masih mempunyai hasrat untuk introspeksi diri demi menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, baik kepada diri sendiri, negara, bangsa, dan tentunya kepada Tuhan Yang Mahaesa. Betapa meruginya kita, apabila penyesalan dan linangan air mata yang tumpah-ruah pada saat itu, menjadi sia-sia hanya karena kita mengulangi lagi perbuatan buruk yang telah kita sesali.

Adapun pendidikan formal sebagai salah satu instrumen dalam membangun karakter adalah dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan formal secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengembangan karakter individu seseorang. Pola pikir seorang Doktor dan Master yang sudah terbiasa menganalisa suatu obyek atau pokok permasalahan secara lebih mendalam dan mendetail, semestinya akan berbeda dengan seorang Sarjana Strata Satu yang dididik dengan teori-teori dan aplikasinya yang masih bersifat umum.

Upaya membangun karakter melalui aktualisasi diri, bisa kita lakukan dengan ikut aktif dalam berbagai kegiatan, baik di lingkungan tempat kerja maupun masyarakat. Aktulisasi diri di lingkungan masyarakat bisa dilakukan dengan aktif di kegiatan dengan lingkup yang kecil seperti RT, RW, atau aktif di lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, seperti LSM, atau di lembaga-lembaga keagamaan, seperti forum pengajian atau persekutuan gereja. Sedangkan aktualisasi diri di lingkungan tempat kerja kita di Pengadilan Pajak, bisa dilakukan dengan ikut aktif di pengadaan, maupun di berbagai kegiatan PIU, seperti CMCAS, Transformasi SDM, dan Survei Kepuasan Stakeholder. Akhirnya, selain instrumen-instrumen yang sudah dijabarkan di atas, ada satu hal yang sangat prinsip dan merupakan kata kunci atau main point, yakni keinginan untuk berubah menjadi lebih baik sesungguhnya berpulang pada moral choice (keputusan moral) pada masing-masing individu itu sendiri. Pendidikan formal, training ESQ, aktualisasi diri, atau kegiatan apapun yang sejenis, hanyalah media atau instrumen belaka. Semuanya akan menjadi tidak berarti, apabila di dalam diri individu yang bersangkutan tidak ada keinginan yang kuat (spirit) untuk berubah.

Sabtu, 12 November 2011

Faktor yang Mempengaruhi Belajar Anak

Prestasi dalam belajar merupakan dambaan bagi setiap orangtua terhadap anaknya. Prestasi yang baik tentu akan didapat dengan proses belajar yang baik juga. Belajar merupakan proses dari sesuatu yang belum bisa menjadi bisa, dari perilaku lama ke perilaku yang baru, dari pemahaman lama ke pemahaman baru.

Dalam proses belajar, hal yang harus diutamakan adalah bagaimana anak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan rangsangan yang ada, sehingga terdapat reaksi yang muncul dari anak.

Reaksi yang dilakukan merupakan usaha untuk menciptakan kegiatan belajar sekaligus menyelesaikannya. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang mengakibatkan perubahan pada anak sebagai hal baru serta menambah pengetahuan.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa belajar merupakan kegiatan penting baik untuk anak-anak, bahkan juga untuk orang dewasa sekalipun.

Perlunya perhatian faktor lingkungan dapat mempengaruhi proses belajar. Suasana yang nyaman dan kondusif mengakibatkan proses belajar akan menjadi lebih baik. Termasuk juga keaktifan proses mental untuk sering dilatih, sehingga nantinya menjadi suatu kegiatan yang terbiasa.

Banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar atau prestasi belajar. Orangtua pun perlu untuk mengetahui apa saja faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar pada anak mereka, sehingga orangtua dapat mengenali penyebab dan pendukung anak dalam berprestasi. Berikut adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan menurut Djaali, H. dalam sebuah bukunya berjudul Psikologi Pendidikan pada tahun 2007, yaitu:

FAKTOR DARI DALAM DIRI

Kesehatan

Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat mempengaruhi proses belajar.

Intelegensi

Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. Menurut Gardner dalam teori Multiple Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestetik fisik, sosial interpersonal dan intrapersonal.

Minat dan motivasi

Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan. Motivasi merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri anak ataupun dari luar lingkungan

Cara belajar

Perlu untuk diperhatikan bagaimana teknik belajar, bagaimana bentuk catatan buku, pengaturan waktu belajar, tempat serta fasilitas belajar.


FAKTOR DARI LINGKUNGAN

Keluarga

Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak. Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan orangtua dan saudara, bimbingan orangtua, dukungan orangtua, sangat mempengaruhi prestasi belajar anak.

Sekolah

Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat kelas, relasi teman sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga mempengaruhi anak dalam proses belajar.

Masyarakat

Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan moral yang baik, terutama anak-anak mereka. Hal ini dapat sebagai pemicu anak untuk lebih giat belajar.

Lingkungan sekitar

Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan iklim juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.

Dari sekian banyak faktor yang harus diperhatikan, tentu tidak ada situasi 100% yang dapat dilakukan secara keseluruhan dan sempurna. Tetapi berusaha untuk memenuhinya sesempurna mungkin bukanlah faktor yang mustahil untuk dilakukan.


Rabu, 02 November 2011

SENI... Apakah itu ?

Jika ditinjau dari berbagai sudut pandang, seni memiliki banyak makna, salah satunya yaitu “Seni merupakan pengekspresian cita rasa yang diluapkan dalam satu karya yang dapat dikatakan unik”.
Seni merupakan sinonim dari ilmu, karna seni pada mulanya adalah proses dari manusia. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian Seni, memiliki tiga arti antara lain:
a. Seni diartikan halus, kecil dan halus, tipis, lembut dan enak didengar, mungil dan elok.
b. Keahlian membuat karya bermutu (dilihat daria segi keindahan dan kehalusannya)
c. kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi

Menurut Ki Hajar Dewantara, seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah sehinga dapat menggerakkan jiwanya.

Dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam kekriaan yang artistik. Cilpacastra yang banyak disebut-sebut dalam pelajaran sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman bagi para cilpin, yaitu tukang, termasuk di dalamnya apa yang sekarang disebut seniman. Memang dahulu belum ada pembedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi belum ada dan seni adalah ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian itu ternyata tidak hanya terdapat di India dan Indonesia saja, juga terdapat di Barat pada masa lampau.

Dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah teknik atau craftsmanship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan atau kemahiran; dan artista adalah anggota yang ada di dalam kelompok-kelompok itu. Maka kiranya artista dapat dipersamakan dengan cilpa.

Berdasarkan penelitian para ahli menyatakan seni/karya seni sudah ada sejak 60.000 tahun yang lampau. Bukti ini terdapat pada dinding-dinding gua di Prancis Selatan. Buktinya berupa lukisan yang berupa torehan-torehan pada dinding dengan menggunakan warna yang menggambarkan kehidupan manusia purba. Artefak/bukti ini mengingatkan kita pada lukisan moderen yang penuh ekspresi. Hal ini dapat kita lihat dari kebebaan mengubah bentuk. Satu hal yang membedakan antara karya seni manusia Purba dengan manusia Moderen adalah terletak pada tujuan penciptaannya. Kalau manusia purba membuat karya seni/penanda kebudayaan pada massanya adalah semat-mata hanya untuk kepentingan Sosioreligi, atau manusia purba adalah figure yang masih terkungkung oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya.
 
Sedangkan manusia moderen membuat karya seni/penanda kebudayaan pada massanya digunakan untuk kepuasan pribadinya dan menggambarkan kondisi lingkungannya “mungkin”. Dengan kata lain manusia moderen adalah figure yang ingin menemukan hal-hal yang baru dan mempunyai cakrawala berfikir yang lebih luas. Semua bentuk kesenian paa jaman dahulu selalu ditandai dengan kesadaran magis; karena memang demikian awal kebudayaan manusia. Dari kehidupan yang sederhana yang memuja alam sampai pada kesadaran terhadap keberadaan alam.

Matius Ali dalam Estetika, Sebuah Pengantar Filsafat Keindahan, membagi seni dalam 3 kategori, yaitu:
  1. Teori Mimesis yang disampaikan oleh para filsuf Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles, menurut teori ini, seni adalah tiruan atau menirukan alam
  2. Teori Ekspresi Seni Modern, Seni adalah ungkapan emosi atau ungkapan perasaan seniman
  3. Teori Cita Rasa, seni bukanlah keindahan, tetapi merupakan pengalaman atau perasaan seseorang

*Berbagai sumber

Rabu, 22 September 2010

PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN

"Entrepreneur bukan berarti pedagang. Namun, mereka yang punya semangat untuk kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, serta mampu mengubah ”sampah” menjadi ”emas”."

Awalnya memang dari gagasan pengusahaan papan atas Ciputra yang serius untuk menyebarluaskan semangat kewirausahaan atau entrepreneurship. Keyakinannya, bangsa ini bakal maju jika banyak orang berjiwa dan bersemangat entrepreneur.  

Entrepreneur bukan berarti pedagang. Namun, mereka yang punya semangat untuk kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, serta mampu mengubah ”sampah” menjadi ”emas”.

Antonius Tanan, yang bekerja di Grup Ciputra sejak tahun 1987, dipercaya Ciputra untuk menyusun silabus serta mengembangkan entrepreneur atau kewirausahaan dalam pendidikan di Indonesia.

Ia sukses menerjemahkan pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah di bawah naungan Grup Ciputra, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Antonius yang kemudian diangkat sebagai Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) mendampingi Ciputra melakukan road show ke sejumlah kota dan kampus di seluruh Indonesia untuk menyebarluaskan semangat kewirausahaan. Ia bertemu juga dengan pejabat tinggi pemerintah dan tokoh masyarakat untuk meyakinkan mereka pentingnya entrepreneurship bagi masa depan bangsa.

Kesibukan Antonius bersama Tim UCEC terus meluaskan kerja sama dengan beragam institusi guna menyebarluaskan pendidikan kewirausahaan. Dimulai dari Campus Entrepreneur Program di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) September 2007, kemudian berlanjut ke Surabaya dan kota-kota lainnya di Tanah Air.

Diselenggarakan pula Training of Trainers untuk dosen-dosen kewirausahaan. Lalu, Training of Trainers Entrepreneurship Educator selama tiga bulan untuk mereka yang akan menjadi entrepreneur sekaligus pelatih atau pendidik entrepreneurship.

Di lingkungan keluarganya, Antonius Tanan juga menumbuhkan semangat kewirausahaan. Misalnya, anaknya yang masih sekolah dasar diminta untuk memberikan hadiah ulang tahun sesuatu yang tak ada di toko. Akhirnya, dengan kreativitasnya sendiri, anaknya menyusun sebuah lagu lengkap dengan aransemen musik ciptaannya sendiri.

Mengapa pendidikan kewirausahaan perlu dilakukan di Indonesia?

Saya sangat gelisah membayangkan anak-anak generasi sekarang kalau nanti 20 tahun lagi tidak mampu menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri. Apakah semua orang akan jadi entrepreneur? Tentu tidak. Kalaupun mereka menjadi pegawai, akan menjadi pegawai yang baik. Karena pendidikan entrepreneurship mengajarkan inisiatif, kreatif, yang sifatnya holistik.

Tidak semua orang mau jadi pengusaha. Apa tetap perlu memperkenalkan pendidikan kewirausahaan lewat sekolah?

Saya melihat di masyarakat punya pandangan yang keliru tentang pendidikan entrepreneurship. Pertama, ada yang berkata kalau memasukkan pendidikan entrepreneurship berarti membuat kurikulum baru. Sebenarnya tidak perlu. Pendidikan entrepreneurship itu memperkaya dan mempertajam kurikulum yang sudah ada.

Kedua, ada juga anggapan mengajarkan entrepreneurship itu mengajarkan dagang. Itu terlalu sempit. Pendidikan entrepreneurship lebih luas dari itu. Ketiga, kita menganggap berpikir belajar entrepreneurship itu kalau sudah besar. Itu keliru. Benih-benih inspirasinya mesti dimulai sejak dari kecil. Ini bisa dimulai dari mengembangkan kreativitas.

Saya membayangkan dan merindukan Indonesia menciptakan produk-produk hebat setaraf Google, Microsoft, dan sebagainya. Tidak sekarang mungkin, tetapi benihnya kenapa enggak kita siapkan sekarang. Pendidikan kewirausahaan menuntut adanya kreativitas. Belajar jangan memori, tapi harus kreatif!

Bagaimana mewujudkan pendidikan entrepreneurship di Indonesia?

Ketika diminta menerapkan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi dengan mendirikan Universitas Ciputra tahun 2006, buat saya masuk akal. Banyak perguruan tinggi bisnis, tetapi tidak mengajarkan secara spesifik masalah kewirausahaan.

Saat saya diminta mengajarkan kewirausahaan sejak dari taman kanak-kanak, saya gamang dan kaget. Apa mungkin? Saya coba cari informasi di internet.

Tahun 2006 saya ke Amerika Serikat. Saya kaget, ternyata ada konferensi di tentang pendidikan entrepreneurship untuk guru-guru di Arizona. Konferensi itu sudah yang ke-24. Tidak heran jika entrepreneur muda banyak lahir dari Amerika Serikat karena mereka mengembangkan entrepreneurship sudah sangat lama. Mereka kini tinggal memetik hasilnya.

Sebenarnya apa yang bisa didapat dari pendidikan entreprenership?

Di balik pendidikan kewirausahaan adalah kreativitas. Kita tahu, saat anak-anak mereka sangat kreatif. Namun saat mereka sekolah hingga selesai, kreativitas mereka hilang menjadi semangat pekerja. Di mana hilangnya? Tentu ada yang kurang dalam sistem pendidikan, lingkungan, serta kehidupan keluarga.

Bagaimana menjalankan pendidikan entrepreneurship di setiap level pendidikan?

Sebenarnya bisa dibuat strukturnya. Kalau di TK itu harus mulai pikirkan kreativitas. Kreativitas itu anugerah yang luar biasa. Hidup itu jauh lebih mudah kalau kita kreatif. Kreativitas mesti terpelihara. Di SD, anak-anak di-explor dengan beragam keunikan dan keberbakatan.

Di SMP diharapkan mereka sudah tahu keberbakatannya. Pada saat ini, pendidikan entrepreneurship bisa masuk ke life skill. Saat SMA keberbakatan itu sudah pernah dicoba di pasar. Kalau kita bisa gabungkan keberbakatan dan entreprenuership, itu powerful.

Bagaimana pengembangan pendidikan entrepreneurship ke depannya?

Lewat pendidikan kewirausahaan ini Pak Ciputra ingin lahir empat juta entrepreneur baru. Entrepreneur ini tersebar mulai dari pesisir sampai pegunungan, dari desa sampai kota besar, anak-anak semua kalangan. Jika entrepreneur sudah menjadi semangat bersama, yakinlah bangsa ini pasti akan maju.


Oleh Ester Lince Napitupulu


Sumber: http://edukasi.kompas.com


Kamis, 19 Agustus 2010

Mencari Pendidikan Alternatif

Tidak bisa tidak, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia di era mondial ini. Pendidikan merupakan acuan dasar bagi manusia untuk mencari hakekat pribadinya sehingga mereka bisa mengatasi segala polemik yang ada di lingkungan sekitar. Sebagai kebutuhan primer, jelas bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap manusia.

Pertanyaannya sudahkah pemerintah memenuhi kebutuhan dasar itu? Terutama terkait dengan UUD 1945 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara? Kecenderungan dalam masyarakat, justru falsafah dasar tersebut masih belum menyentuh realitas.

Sebaliknya, lembaga pendidikan, para elite pendidikan lebih mengedepankan money oriented. Pendidikan tak ubahnya seperti pasar. Di pasar adanya barang dagangan (baca: sekolah) di pasar ada tawar menawar antara penjual dan pembeli dan di pasar ada uang. Uanglah yang menentukan sebua transaksi. Siapa yang memiliki uang dialah yang bisa membeli sekolah.

Tak pelak, Masih banyak para orang bawah yang mengeluh sekolah yang mahal, dengan dana-dana yang tau akan dialokasikan kemana. Dan tak jarang anak mereka diperintahkan untuk mencari uang sendiri. Seperti; memulung barang bekas, pengamen dijalanan hingga mengemis di beberapa perumahan mewah. Hal inilah yang kurang disentuh oleh pemerintah.

Padahal telah dikemukan di Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa "setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, setiap warga negara wajib memperoleh pendidikan dasar dan pemerintah wajib menyediakan dananya". Masih dalam pasal itu juga dinyatakan bahwa pemerintah mengupayakan tersedianya dana pendidikan sekurang-kurangnya 20% APBN dan APBD. Dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak, "mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya" dan "mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya" (ayat 1 huruf c dan d).

Dapat penulis uraikan pernyataan diatas bahwa seharusnya pendidikan itu wajib dikenyam oleh semua warga dan jangan sekali-kali ada diskriminasi dalam pendidikan sehingga adanya sebuah pembatas antara kaum si kaya dan si miskin. Hal ini yang menyebabkan adanya pemetakan-pemetakan guna memperoleh sebuah pendidikan yang layak bagi semua warga Negara.

Menurut Darmaningtyas pemetakan tersebut adalah mereka yang tinggal di daerah perkotaan, berasal dari keluarga terdidik, dan ditunjang kemampuan ekonomi yang cukup (kita sebut kelompok pertama), tentu memiliki kesadaran tinggi untuk menyekolahkan anaknya, termasuk berani membayar mahal. Tetapi mereka yang miskin, meski tinggal di kota (kita sebut kelompok kedua), belum tentu memiliki kesadaran sama. Atau mereka memiliki kesadaran tinggi untuk menyekolahkan anaknya, tetapi tidak memiliki biaya. Masalah yang lebih kompleks adalah mereka yang tinggal di daerah terisolasi dan miskin (kita sebut kelompok ketiga).

Maka disini pemerintah perlu adanya langkah-langkah yang kontruktif. Pemerintah berpikir bagaimana anak yang belum mendapatkan haknya (baca ; pendidikan) merasakan bangku sekolah yang dinilai berharga bagi mereka tanpa harus mengeluarkan biaya yang melimpah.

Perlu sekali adanya pendidikan ‘ Alternatif ’, khususnya bagi mereka yang tidak mampu sehingga tak perlu lagi membayar uang pendidikan (baca; sekolah gratis) di daerah terpencil yang banyak didiami oleh si miskin juga terlebih lagi yang belum mengenal sekolah sama sekali. Tujuannya tak ada lain hanya untuk mencerdaskan anak bangsa. Ini sesuai dengan pasal diatas yang membahas tentang pendidikan yang mana setiap warga negara wajib memperoleh pendidikan dasar dan pemerintah wajib menyediakan dananya. Juga mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Ada statement yaitu, pendidikan gratis itu pendidikan tidak bermutu dan menjatuhkan mutu pendidikan, sehingga tak salah mereka yang ber-duit (kaya) lebih baik membayar mahal dengan kualitas yang terjamin. Namun, bagi mereka yang tidak ber-duit (miskin) pendidikan gratis jelas amat menarik, karena para anaknya bisa bersekolah tanpa harus bayar.

Jadi, sampai saat ini belum tersentuhnya pendidikan yang berkualitas untuk masyarakat bawah dalam program pendidikan nasional. Maka, solusinya pemerintah harus mempertegas arah regulasi pendidikan, termasuk jaminan pendidikan untuk keluarga miskin. Seperti tunjangan pendidikan, beasiswa, dan subsidi silang. Pemerintah harus berkomitmen untuk mempunyai andil dalam dunia pendidikan. Keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan pemerintah.
 


PENDIDIKAN NON FORMAL

Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

 

Sasaran

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

 

Fungsi

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

 

Jenis

Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

 

Satuan pendidikan penyelenggara

  • Kelompok bermain (KB)
  • Taman penitipan anak (TPA)
  • Lembaga kursus
  • Sanggar
  • Lembaga pelatihan
  • Kelompok Belajar
  • Pusat kegiatan belajar masyarakat
  • Majelis taklim
Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pendidikan. PKBM ini masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan Nasional. PKBM ini bisa berupa tingkat dusun, desa ataupun kecamatan. untuk mendirikan PKBM bisa dari unsur apapun oleh siapapun yang tentunya telah memenuhi syarat-syarat kelembagaan antara lain : 1. Akta Notaris 2. NPWP 3. Susunan Badan pengurus 4. Sekretariat 5. Ijin Operasional dari Dinas Pendidikan Kab/kota

Cakupan Kegiatan

Cakupan kegiatan antara lain :
  • Kejar Paket A
  • Kejar Paket B
  • Kejar Paket C
  • PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
  • KBU (Kelompk Belajar Usaha)
  • KUPP (Kelompok Usaha Pemuda Produktif)
  • Pemberdayaan Perempuan / Pangarustamaan Gender
  • Keaksaraan Fungsional(KF)
  • Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
Wikipedia

HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

1. Pengertian

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2. Tujuan

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

3. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :
  • Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.
  • Belajar melalui bermain
Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.
  • Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
  • Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.
  • Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.
  • Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.
  • Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .

Calistung pada Anak PAUD bisa Mengakibatkan 'Mental Hectic'

Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena 'Mental Hectic'. ''Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,'' ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada 'qitah'-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung.

Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ''Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,'' jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung. Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ''Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,'' cetusnya.

Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ''Jadi tidak main-main itu, ada namanya 'mental hectic', anak bisa menjadi pemberontak,'' tegas dia.

Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ''SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,'' jelasnya.

Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi. Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ''Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,'' jawab dia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Srie Agustina, Koordinator Komisi Edukasi dan Komunikasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), menyatakan, memilih mensosialisasikan produk pendidikan merupakan bagian dari fungsi dan tugas BPKN untuk melakukan perlindungan terhadap konsumen.

Dalam hal ini, kata Srie, BPKN memprioritaskan sosialisasi pada anak usia dini. Sebab berdasarkan Konvensi Hak Anak, setiap anak memiliki empat hak dasar. Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dalam kerugian dari barang dan produk, termasuk produk pendidikan. ''Untuk itu sejak dini anak dilibatkan, karena di usia itulah pembentukan karakter terjadi,'' papar Srie.

Namun menurut Srie, mengedukasi tentang sebuah produk harus menggunakan metode khusus. Tidak dapat berwujud arahan dan larangan, namun dengan cara yang menyenangkan, salah satunya dengan festival mewarnai sebagai salah satu teknik untuk memberikan edukasi. ''Dengan mewarnai, mereka bisa terlibat dan merasa lebur di dalamnya, selain itu dalam gambar yang diwarnai tersebut disisipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan,'' pungkasnya. 
 

PENDIDIKAN KESETARAAN

Pendidikan Kesetaraan, merupakan salah satu dari pendidikan non formal (PNF) yang mencakup program Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA. Program ini penekannnya pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik.

Direktorat Kesetaraan Dirjen PNFI sekarang memberikan kebijakan bahwa ada 3 spektrum yang perlu dilaksanakan yaitu Spektrum KMA (Kesetaraan Murni Akademik), KIV (Kesetaraan Integrasi Vokasi dan KMV (Kesetaraan Murni Vokasi). Ketiga spektrum tersebut diharapkan dapat dilaksanakan untuk menjawab perubahan dan perkembangan jaman saat ini.

Pendidikan kesetaraan memberikan tempat dan melayani pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu, anak DO, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup, warga masyarakat lain yang membutuhkan layanan khusus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari perubahan peningkatan taraf hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan kesetaraan (setara), definisi setara adalah sepadan dalam civil effect, ukuran, pengaruh, fungsi dan kedudukan. " Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan", petikan tersebut diatas terdapat dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 26 Ayat (6). Petikan tersebut memperkuat bahwa hasil pendidikan kesetaraan sepadan dengan pendidikan formal.

Sasaran pendidikan kesetaraan yang belum terlayani di negeri ini masih banyak. Mereka ada dilingkungan dekat kita, seperti maaf, pembantu di rumah kita boleh jadi hanya lulusan SD, atau bahkan DO SD atau DO SMP, Masyarakat pekerja di pasar, atau masyarakat yang karena kesibukan bekerja ia ternyata masih ingin memerlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Cobalah identifikasi, teliti dari sekarang, apa pendidikan terakhir mereka ? Mereka juga ada di pelosok-pelosok negeri ini, di daerah yang terisolir secara geografis. pelayanan pendidikan kesetaraan pada mereka sampai sampai menggunakan para penerjun yang langsung mendatangi daerah terisolir tersebut untuk memberikan pelayanan pendidikan.

Mari bersama-sama menelisik lingkungan terdekat kita, masih adakah yang belum memperoleh layanan pendidikan? ......

Mereka yang tidak terlayani pendidikannya , harus dilayani. Karena memperoleh pendidikan adalah hak asasi. Seperti tercantum dalam pasal 28 c ayat 2 UUD 45 yang tertulis bahwa " setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia".
 

Selasa, 17 Agustus 2010

MEMBUAT PESERTA DIDIK AKTIF SEJAK DINI

Ketika anda memulai pelajaran, maka sangat penting (bagi anda) membuat para peserta didik agar aktif sejak awal. Jika tidak, maka anda akan mengambil resiko terjadinya kapasitas seperti halnya semen yang tinggal menunggu waktu untuk mengering. Berbagai kegiatan pembuka struktur (pembelajaran) dibuat agar peserta didik lebih mengenal, mengerak-gerakan, mengajak pikiran mereka, dan memancing perhatian mereka dalam mata pelajaran, pengalaman-pengalaman ini dapat dianggap sebagai ”pembangkit selera makan” terhadap makanan penuh perangsang selera makan tersebut memberikan peserta didik sebuah rasa apa yang harus diikuti. Meskipun beberapa guru memilih memulai suatu pelajaran hanya dengan sebuah pengantar singkat, namun, paling tidak, dengan menambah sebuah latihan pembuka terhadap perencanaan pengajaran anda merupakan langkah pertama yang mempunyai banyak keuntungan. Mari kita eksplorasi bersama mengapa demikian.

Memulai Tujuan

Pada saat-saat paling awal pengajaran aktif, ada tiga tujuan penting yang harus dicapai. Artinya penting tujuan tersebut hendaknya tidak terabaikan, walaupun pelajaran hanya berakhir satu sesion. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut :
Membangun Team (Team building) : bantulah peserta didik menjadi kenal satu sama lain dan ciptakan semangat kerja sama dan saling bergantung.
Penegasan : pelajari sikap, pengetahuan, dan pengamalan peserta didik.
Keterlibatan belajar seketika : ciptakan perhatian / minat awal dalam mata pelajaran.

Semua tujuan ini, ketika tercapai, membantu mengembangkan lingkungan belajar yang melibatkan peserta didik, mengembangkankemauan mereka untuk berperan serta dalam pengajaran aktif dan menciptakan norma-norma ruang kelas yang positif. Mengambil dimanapun mulai dari lima menit sampai dua jam untukkegiatan-kegiatan pembuka (tergantung pada lamanya pelajaran anda) akan menjadi waktu yang baik untuk dimanfaatkan. Memperkenalkan kembali kegiatan-kegiatan ini dari waktu ke waktu dari keseluruhan materi pelajaran juga membantu memperbaharui bangunan team, memperbaiki pengukuran, dan membangun kembali minat dalam mata pelajaran.

Dalam bab ini, kita akan menguji strategi untukmencapai tiga tujuan ini. Anda hendaknya mencari beberapa (dari strategi ini) yang akan berguna bagi anda. Ketika anda memilih strategi-strategi pembuka untuk digunakan didalam kelas, ingatlah beberapa pertimbangan berikut ini :

Tingkat Ancaman :

Apakah pelajaran yang anda ajarkan terbuka terhadap gagasan dan kegiatan baru, atau apakah anda mengantisifasi keragu-raguan dan keberatan dari para peserta didik pada awalnya? Membuka dengan sebuah strategi yang menunjukan tidak adanya pengetahuan dan keterampilan peserta didik dapat berbahaya : mereka mungkin tidak siap mengungkapkan keterbatasan-keterbatasan mereka. Sebagai gantinya, sebuah strategi yang meminta para peserta untuk berkomentar tentang sesuatu yang sudah akrab dengan mereka akan mempermudah keterlibatan mereka dalam pelajaran.

Ketepatan terhadap norma-norma peserta didik.

Sebuah kelas para remaja atau orang dewasa mungkin pada awalnya kurang menerima untuk memainkan permainan-permainan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh sebuah kelompok dari kelas lima. Para peserta didik perempuan mungkin merasa lebih nyaman berbagi perasaan mereka dalam sebuah latihan penyingkapan diri dibandingkan dengan peserta didik laki-laki. Anda menetapkan langkah bagi keseluruhan pelajaran ketika anda memilih sebuah kegiatan pembuka, pertimbangkan audiens anda dan rencanakan secara tepat.

Relevansi terhadap mata pelajaran:

Jika anda tidak tertarik pada sebuah (strategi) tukar-menukar nama secara sederhana, maka berbagai strategi yang mungkin and abaca menawarkan sebuah kesempatan yang baik bagi para oeserta didik untuk memulai mempelajari materi pelajaran. Gantilah sebuah pemecah kebekuan (icebreaker) yang disarankan agar mencerminkan materi yang sedang anda rencanakan untuk diajarkan dalam pelajaran anda. Semakin erat ada hubungan antara latihan anda dengan mata pelajaran, maka semakin mudah transisi yang akan bisa anda buat terhadap berbagai kegiatan pengajaran penting yang harus anda miliki/simpan.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut mempunyai relevansi dengan setiap aspek dari rangkaian pengajaran anda, namun sangat penting dalam tahap-tahap pembuka. Sebuah pembuka yang sukses akan menentukan langkah bagi sebuah kelas (pembelajaran) yang sukses pula. Demikian juga, sebuah pembuka yang nampaknya mengancam, iseng, atau tidak dikaitkan dengan bagian pelajaran anda dapat menciptakan sebuah situasi yang buruk yang sulit untuk diatasi.

Jumat, 13 Agustus 2010

Peran Guru dalam meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Keberadaan seorang guru dalam suatu sekolah tidaklah dapat disangkali lagi, karena tanpa guru sekolah tidak akan dapat berjalan. Namun peran guru tidaklah hanya berhenti sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu saja, karena tanpa adanya peran sebagai motivator maka sia-sialah peran guru sebagai sosok yang melakukan transfer ilmu.

Seorang motivator adalah seseorang yang mampu membangkitkan motif atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Berdasarkan kedudukannya sebagai seorang guru tentu memiliki sasaran yang pasti yaitu murid-murid yang dihadapinya sehari-hari. Bangkitnya motivasi mereka untuk meraih suatu prestasi merupakan bagian dari keberhasilannya sebagai seorang motivator dan merupakan suatu kebanggaan melihat murid yang dibimbingnya memiliki suatu prestasi yang optimal.

Tampilnya seorang guru sebagai motivator bagi siswa-siswi yang dihadapinya
sehari-hari bukanlah hal yang mudah. Untuk menjadi seorang motivator bagi siswasiswinya, seorang guru juga harus dapat memberi motivasi bagi dirinya sendiri
yang otomatis menjadi motivator bagi dirinya sendiri.

Sudahkah Anda menjadi motivator bagi diri Anda sendiri ? Tanpa hal ini rasanya akan sulit bagi seorang guru untuk menjadi motivator bagi siswa-siswinya. Saat ini yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara yang terbaik yang harus dilakukan oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan fungsinya sebagai seorang motivator.

Berbagai teori telah dikemukakan namun seringkali gagal. Siswa tetap tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi , yang nampak melalui nilai-nilai akademik, banyaknya siswa-siswi yang membolos sekolah hingga menimbulkan banyak masalah. Contohnya; tawuran diantara siswa.

Hal ini membuat para guru menjadi serba salah dalam bertindak, karena merasa telah melaksanakan berbagai cara ataupun teori namun hasil yang dicapai tidak kunjung terlihat. Sehingga seringkali timbul kesan bahwa guru-guru di Indonesia adalah guru yang memiliki kemampuan minim. Padahal bila dibuktikan akan terlihat bahwa banyak guru di Indonesia adalah guru-guru yang memiliki kompeten tinggi dalam dunia pendidikan.

Namun tidak pula dapat kita sangkali bahwa banyak guru di Indonesia yang hanya melakukan transfer ilmu tanpa mau sedikitpun menjadi motivator bagi muridmuridnya, bahkan tampak adanya kesan bangga bila muridnya mendapat nilai buruk dalam mata pelajaran yang diajarnya, hal ini dianggapnya menunjukkan bahwa semua murid itu bodoh dan hanya gurulah yang pandai.

EMPAT LANGKAH SEORANG MOTIVATOR EFEKTIF

Sebenarnya menjadi seorang motivator bagi siswa-siswi di sekolah bukanlah hal yang sulit. Namun hal ini juga bukan berarti hal yang mudah untuk dilakukan.  Oleh karena itulah penulis mencoba merangkum beberapa pemikiran ke dalam ‘empat langkah, yaitu:

1. Lakukanlah yang terbaik
Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kuncinya adalah belajarlah mencintai apa yang anda lakukan maka Anda akan merasakan hasilnya.

2. Jadilah teladan bagi lingkungan
Teladan yang baik merupakan bukti bahwa seseorang mampu menjadi motivator bagi dirinya. Karena itu merupakan syarat utama sebagai seorang motivator. Contohnya; seorang guru perokok tidak mungkin menjadi seorang motivator bagi siswasiswinya agar tidak merokok

3. Jadikanlah siswa sebagai subyek
Dengan menjadikan seorang siswa sebagai subjek pendidikan, maka kita memberikan kesempatan pada mereka untuk menjadi manusia yang kritis dalam berpikir serta menyampaikan pendapatnya secara demokratis tanpa meninggalkan norma-
norma yang ada.

Menjadikan siswa sebagai subyek dapat kita lakukan dengan cara menjadi pelindung, orang tua atau bahkan seorang sahabat yang memiliki rasa empati bagi mereka (khususnya untuk anak-anak remaja) di saat mereka membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati mereka.

4. Memiliki wawasan yang luas
Seorang motivator tidak akan menjadi motivator yang baik bila tidak memiliki wawasan yang luas mengenai berbagai bidang.

DAMPAK
Dampak yang timbul bila guru menjalankan perannya sebagai motivator antara lain adalah;

a. Timbulnya keinginan pada siswa untuk lebih menekuni materi yang dihadapinya.
Hal ini akan sangat berpengaruh dengan prestasi akademik
siswa.

b. Adanya keinginan yang kuat dalam diri siswa untuk pergi ke sekolah, contohnya; siswa tidak perlu lagi dipaksa untuk pergi ke sekolah.  Mereka  menikmati acara belajar mereka yang berlangsung di sekolah sehingga tidak ada lagi dalam pikiran mereka untuk membolos.

c. Rasa memiliki sekolah; akan timbul bila siswa merasa bahwa sekolahnya adalah suatu tempat yang menyenangkan. Hal ini juga mempengaruhi nama baik sekolah.

Sumber: BPK Penabur (dikutip dari www.duniaguru.com)


Media Pembelajaran Efektif

PESERTA didik saat ini sangat menuntut guru untuk mengajar lebih kreatif dan tidak membosankan. Karena itu, guru sangat memerlukan metode dan teknik-teknik baru dalam mengajar. Termasuk, mencari media pembelajaran sebagai bagian dari alat bantu mengajar (teaching aids) yang sangat diperlukan.

Saat ini, jenis media pembelajaran kian beragam di pasaran. Para pendidik bisa mudah mendapatkannya di toko-toko buku maupun membelinya melalui internet. Namun, semua fasilitas tersebut memerlukan dana yang tidak sedikit, sehingga sekolah-sekolah yang kurang mampu belum bisa memanfaatkan media tersebut. Atas pertimbangan itulah, guru dituntut lebih kreatif untuk menciptakan dan menemukan media pembelajaran murah.

Di sisi lain, banyak guru yang beranggapan bahwa media pembelajaran tidaklah terlalu penting dalam proses belajar. Ada juga yang menyatakan, membuat media pembelajaran hanyalah membuang waktu dan tenaga. Sebab, yang terpenting adalah cara guru mengajar dan menerangkan pelajaran di kelas. Daripada harus repot-repot membuat media pembelajaran, lebih baik melakukan hal lain yang lebih terlihat urgensinya. Begitu barangkali pendapat sebagian guru yang tidak mau berepot-repot menyiapkan media pembelajaran.

Sebenarnya, bila kita bisa berpikir kreatif, apa pun yang kita temukan di sekitar kita bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Guru yang kreatif tidak akan terkungkung oleh pemikiran yang terlalu rigid bahwa media pembelajaran harus dibuat sebagus dan seideal mungkin. Paradigma bahwa media pembelajaran haruslah sedemikian rupa dan sempurna harus dibuang jauh-jauh jika guru ingin maju.

Jika mainan anak dapat kita dijadikan media pembelajaran, mengapa kita tidak menggunakannya untuk membantu belajar anak didik kita? Jika barang-barang bekas bisa digunakan sebagai media pembelajaran, mengapa kita tidak memakainya?

Menurut Brinton di Celce-Murcia, ada dua definisi media yang sering digunakan orang. Definisi pertama adalah inovasi teknologi yang digunakan dalam pembelajaran yang biasanya berupa peralatan yang bersifat mekanis. Pengertian kedua adalah segala macam benda yang bisa bersifat mekanis, atau bisa buatan sendiri, atau bahkan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat digunakan dalam pembelajaran.

Jika kita melihat pengertian yang pertama, yang akan terjadi adalah asumsi bahwa media pembelajaran selalu membutuhkan biaya. Tapi, jika kita menggunakan definisi kedua, kita akan terpacu untuk membuat atau menemukan media baru yang bisa dipakai mengajar di kelas. Media tersebut bisa berupa realita, flashcard, gambar peristiwa dan objek, artikel, brosur, pamflet, atau bahkan hal dan benda baru yang belum pernah terpikirkan.

Contohnya, ada seorang guru di Surabaya yang berhasil menggunakan tutup botol kecap (kempyeng) untuk pembelajaran matematika. Contoh lain adalah penemu jarimatika, Septi Peni Wulandari, yang bisa menggunakan media jari-jari tangan untuk belajar berhitung. Ada banyak keuntungan yang didapatkan menggunakan media buatan sendiri. Yang pertama, kita dapat menyesuaikan tingkat kebutuhan peserta didik. Kedua, kita bisa memakainya kembali untuk kesempatan-kesempatan lain dengan menerapkan prinsip SOAR (sort, omit, add, recycle). Keuntungan yang ketiga adalah menghemat biaya alias murah meriah.

Contoh barang-barang bekas yang bisa dipakai untuk media pembelajaran adalah majalah/koran-koran bekas. Dari majalah atau koran bekas, kita bisa memperoleh gambar-gambar atau artikel yang bisa dipakai untuk belajar. Gambar-gambar peristiwa atau kartun-kartun lucu bisa mudah kita temukan di koran.

Di salah satu koran nasional di Jawa Timur misalnya, kita bisa menemukan rubrik Senyum Itu Sehat yang berisi gambar-gambar kartun tanpa caption. Gambar tersebut ternyata dapat dijadikan media pembelajaran bahasa yang efektif. Berikut ini adalah contoh media yang dibuat dari gambar-gambar yang didapatkan dari koran.

Dari gambar berseri di atas kita dapat membuat tiga macam versi media untuk pembelajaran bahasa Indonesia/Inggris. Yang pertama adalah dengan memotongnya begitu saja dari koran dan menempelkannya pada kertas warna untuk kemudian di laminating. Dari gambar berseri tersebut siswa dapat membuat cerita baik tulis maupun lisan. Selain itu guru juga dapat menggunakannya sebagai pancingan terhadap siswa untuk berbicara tentang isu-isu terkini.

Jika kita perhatikan, gambar-gambar tersebut mengangkat topik-topik hangat yang sedang ramai diperbincangkan, misalnya tentang banjir, flu burung, kecelakaan alat transportasi dan sebagainya. Yang kedua adalah dengan memotongnya secara terpisah-pisah sehingga membentuk kartu. Gambar-gambar tersebut kemudian ditempelkan pada kertas karton warna dan dilaminating.

Aktivitas yang dapat dilakukan dengan media gambar kartu adalah siswa dapat belajar berpikir logis untuk mengurutkan cerita. Sedangkan versi terakhir adalah dengan mengopi gambar dalam bentuk transparansi untuk OHP atau memindai dengan scanner untuk ditampilkan di LCD. Gambar tersebut kemudian ditampilkan sebagian dengan tujuan siswa dapat berimajinasi untuk menebak jalan/akhir dari sebuah cerita.

Contoh kedua adalah gambar peristiwa dan objek yang kita dapatkan dari koran/majalah bekas seperti contoh di bawah ini.

Dengan menampilkan gambar tersebut guru dapat mengarahkan siswa untuk berdiskusi tentang topik-topik tentang illegal logging atau tentang manfaat hutan bagi makhluk hidup. Tentunya masih banyak gambar-gambar lain yang dapat kita ambil dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Dengan begitu kita dapat menghemat biaya untuk mencetak gambar-gambar sekaligus memanfaatkan barang bekas sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan.

Paparan di atas adalah sebagian kecil contoh media murah meriah yang dapat dibuat sendiri oleh guru tanpa mengesampingkan peran pembuat media profesional yang hasil karyanya banyak tersedia di pasaran. Dalam hal ini tangan dan mata seorang guru haruslah aktif dalam arti yang positif. Aktif untuk melihat, memilih, memilah dan mengambil hal baru di sekitarnya yang sekiranya bermanfaat untuk perkembangan anak didik.

Inti semua itu, guru secara mandiri harus bisa menyiapkan media pembelajaran untuk membantu peserta didik belajar lebih efektif. Memang membutuhkan waktu untuk menyiapkan media pembelajaran. Tapi, yakinlah, waktu yang telah diinvestasikan untuk mempersiapkan media pembelajaran akan terbayar oleh hasil yang akan didapat. (*)

Sumber:
http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=321208


Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567






PARIWARA

PKBM YASEMA
Pusat Remaja YASEMA
Jasa Buat Blog
Pesan Pasang Iklan
Pesan Disini!
Blog     Gambar     Video     Berita    
Topik Pilihan : Puisi Buat Guru     Pedoman BKR     Generasi Berencana     Terlambat Datang Bulan     Posisi Sex